Advertisement

Drama Pulang Kampung

Manusia boleh berencana, tapi Allah yang berhak menentukan terlaksana atau tidaknya.

Malam kemarin, aku pulang ke kampung halaman. Rencana kepulangan ini telah aku susun jauh-jauh hari, bahkan sejak Maret. Berhubung besok pemilihan umum (pemilu) dan ditetapkan sebagai hari libur, kemudian Jumatnya pun libur kenaikan Nabi Isa, makanya aku memutuskan untuk pulang sejenak. Biarlah hari kamis aku korbankan. Urusan kompen nanti saja, deh.

Sesuai rencana, aku akan pulang Selasa malam. Aku memilih berangkat di malam hari sebab merasa akan rugi jika tidak mengikuti salah satu mata kuliah hari itu. Perkuliahan selesai pukul 13.30, sedikit lebih cepat dari biasanya. Setelah itu, aku menuju ke markas himpunan untuk menyelesaikan segala tanggung jawab sebelum pulang kampung. Pemberkasan, revisi, dan mengajukan laporan ke struktural telah kulakukan. Aku memutuskan untuk pulang.

Saat pulang, hujan masih turun, meskipun tidak sederas seperti sebelumnya.
"Tak apalah, deket ini, pulang aja. Lagian belum selesai ngerapiin barang buat pulang,"ucapku dalam hati.
Aku menuju parkiran, mengenakan jas hujan,  kemudian pulang.

Sesampai di rumah, langsung kurapikan segala sesuatu yang akan kubawa. Tak banyak sih, tapi tetap saja membutuhkan waktu. Belum lagi dengan kondisi kakakku yang sedang kerepotan. Rasanya tidak enak jika aku hanya mementingkan diriku saja.

Segala persiapan telah kuselesaikan sebelum pukul 5. Sebelumnya, aku berniat untuk menuju stasiun pukul 17.30, namun ternyata rencana tidak sesuai dengan realita. Aku baru berangkat menuju terminal selepas adzan maghrib dan bus dijadwalkan berangkat pukul 18.30!

Tenang.. Tenang...
Aku berusaha menenangkan diri. Dengan jalan yang cepat, aku sampai di terminal Depok (dekat stasiun Depok Baru) pukul 18.18. Masih ada waktu. Aku mampir ke Indo****t dekat sana untuk membeli keperluan. Setelah itu, aku menuju tempat parkiran bus.

Dari kejauhan aku tidak melihat adanya bus yang biasa aku naiki. Aku pikir ini karena mataku yang minus dan kondisi saat itu gelap. Aku mencoba memastikannya. Ternyata busnya memang tidak ada!

Aku yang kebingungan mencoba bertanya ke salah satu orang di yang ada di sana.
"Pak bus *sensor* udah jalan, ya?"tanyaku dengan keadaan panik tapi berusaha tenang.
"Oh, sekarang bus antarkota gitu udah gak boleh masuk sini, mba. Sejak tanggal 13 April udah dipindahin ke Terminal Jati Jajar semua. Coba ke sana, pasti banyak bus itu,"ujar bapak-bapak berbaju abu.

"Oh ya?"tanyaku dengan sedikit tidak percaya, "terminal Jati Jajar itu di mana, ya, Pak?"ucapku kemudian.

Bapak tersebut menjelaskan letak si Terminal Jati Jajar itu lengkap dengan transportasi yang bisa kunaiki. Kata si Bapak, waktu menuju ke sana tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit saja.

Aku menelpon kakakku terlebih dahulu, meminta pendapatnya. Kata dia aku mending tidak usah pulang. Tapi ya namanya juga aku, keras kepala, aku memilih untuk mencoba datang ke Terminal Jati Jajar. Soalnya penasaran kalau belum liat secara langsung. Seenggaknya kalau pun nantinya busnya udah gak ada, aku udah memastikanya, dan tidak ada rasa penyesalan. Kata kakakku, "yauda terserah, naik ojol aja biar cepet."

Akhirnya aku jalan ke depan ITC Depok sambil memesan Gojek. Abang pertama membatalkan karena posisi dia terlalu jauh. Aku pesan lagi, abang yang kedua lama banget, pas udah mau deket dia malah lewat aja, gak berhenti, dan tiba-tiba akunku sudah memesan gojek yang baru. Sepertinya saat itu aplikasinya sedang error. Aku merasa kesal, disaat seperti ini kenapa ada saja halangannya. Innalillaahi. Barulah abang yang ketiga lancar. Aku segera menaiki motornya dan menuju Terminal Jati Jajar.

Ternyata, si abang ini tidak tau letak terminalnya di mana dan tentunya aku juga gatau. Dengan mengandalkan maps, kami berdua terus menyusuri malam. Perasaanku sudah tidak jelas, takut, berharap, bingung, entahlah. Ketika sudah mendekati titik yang tertera di aplikasi, terminal itu gak ada. Aku dan abang ojol menepi. Kutanyakan kepada bapak-bapak dipinggir jalan di mana letak terminal tersebut.
"Dikit lagi, mba. Sekitar 500 meter."

Motor terus berjalan secara perlahan. Aku terus menengok ke arah kiri, katanya terminal terletak di sebelah kiri. Dan... Yeay aku menemukannya! Alhamdulillaah...

Tapi, pintu masuk terminalnya sangat gelap dan sama sekali tidak ada orang. "Kok kaya gak ada orang ya, pak?" tanyaku pada si abang ojol.
"Iya, kayanya gak terkenal terminalnya. Ini aja saya baru tau ada terminal di sini."

Setelah sampai di dalam, alhamdulillaah ada orang. Aku langsung turun dan memberikan ongkos. Kulangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuju parkiran bus. Aku melihat nama bus yang biasa aku naiki. Ketika kudekati, ternyata, busku udah jalan! Dua bus yang terparkir di sana memiliki tujuan yang berbeda dengan bus yang biasa kunaiki.

Saat itu aku benar-benar merasa bingung, takut, gak tau harus ngapain. Dalam kondisi sendirian dan kebingungan, akhirnya aku menangis. Gak tau, aku memang sering kali menangis haha.

Ku telpon kakakku, lagi-lagi dia menyuruhku untuk gak usah pulang. Tapi, katanya lagi aku coba minta pendapat kepada ibu. Langsung aku telpon ibu, kata ibu, "Yaudah kamu naik yang jurusan Tasik aja, ntar turun di sana, naik bus lagi yang ke arah rumah."

Tangisku belum berhenti. Aku memikirkan, jika nanti aku naik bus ke arah Tasik, pasti sampai sana dini hari sekitar jam 3. Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya berada di sebuah terminal, sendirian, dan malam-malam. Pikiran-pikiran negatif diotakku langsung bermunculan.
Tapi, dengan bismillah, akhirnya aku memutuskan untuk menaiki bus tersebut. Aku berharap semoga macet dan sampai sana bisa sedikit siang, setidaknya subuh deh.

Bapak mengirimkan pesan kepadaku untuk terus-menerus berdoa dan menjaga barang-barang. Saat di terminal, bus tidak penuh. Hanya ada lima orang saja. Namun, saat di Cibinong. Bus langsung terisi penuh. Alhamdulillah yang duduk di sebelahku mbak-mbak. Bukan cowok.

Aku memutuskan untuk tidur. Menghilangkan segala ketakutanku. Aku baru terbangun saat bus sudah sampai di terminal Tasik. Itu pun dibangunkan oleh mbak-mbak yang duduk di sebelahku. Aku terburu-buru untuk turun.

Saat sudah turun, aku mengambil hp dan melihat puluhan misscall dari ibu, kakak, dan chat dari temanku. Ibu sampai tidak tidur dengan teratur karena menungguku. Aku langsung menelpon Ibu, memberi kabar aku sudah berada di Tasik. Saat itu, jam menunjukan pukul 05.20. Aku kaget. Ternyata perjalanan selama itu, ya? Semalam macetnya parah.

Aku menunggu bus yang ke arah rumah. Busnya baru muncul pukul 06.00. Akhirnya, aku sampai rumah pukul 09.00. Alhamdulillaah..

Ya begitulah hidup. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi satu menit kemudian. Semua rencana yang telah kita persiapkan bisa saja berjalan atau bahkan bisa juga berbanding terbalik dengan keinginan. Tapi, dari sana aku bisa belajar banyak hal. Seperti bagaimana menghadapi situasi membingungkan, mengontrol emosi, tenang dalam segala keadaan. Dari sana juga setidaknya aku bisa tau di mana letak Terminal Tasik. Apa pun yang sudah terjadi, baik-buruk tetap harus diambil hikmahnya.

Terima kasih kepada ibu-bapak yang terus menunggu kabar dariku. Sepertinya tidur kalian menjadi tidak nyenyak akibatku, ya? Hehe
Terima kasih juga kepada temanku, yang telah mendengarkan keluh-kesah dan menenangkanku.

Dan, terima kasih kepada diriku sendiri yang telah berani menghadapi semua itu. Lain kali jangan nangis, ya. Kamu harus tetap sabar dan tenang. Jangan panik. Tenang.. Ok?

Posting Komentar

2 Komentar