Teruntuk teman lelakiku yang mengungkapkan perasaannya siang itu. Hello, apa kabar kamu? Semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan dilancarkan segala kegiatannya. Aamiin.
Ketika kamu mengirimkan pesan dan mengungkapkan bahwa kamu menyukaiku, aku tidak tau jawaban seperti apa yang harus aku utarakan atas pernyataanmu yang mengejutkan itu. Sejujurnya, aku tidak ingin bersikap munafik dengan mengatakan aku tidak merasa nyaman dengan kehadiranmu, padahal kenyataannya sebaliknya. Ya, aku nyaman denganmu, aku menyayangimu, sebagai temanku. Aku tidak pernah berniat mengubah status kita menjadi lebih dari sekadar teman seperti yang orang lain banggakan. Itu hanya status dan aku rasa kita tidak membutuhkan itu. Menurutku, diusia kita yang hampir menginjak kepala dua ini, bukankah hal-hal seperti itu bukan sesuatu yang penting lagi kan?
Aku tidak tau sejak kapan rasa suka itu hadir di dalam dadamu. Aku juga tidak tau hal apa yang kamu sukai dari diriku, yang seperti kamu ketahui, aku manusia paling mengesalkan yang pernah kamu temui, bukan? Hahaha. Ketika kutanya mengapa pun kamu tidak memiliki alasan yang jelas. Ya, orang memang sering mengatakan mencintai itu tidak perlu alasan. Maaf, maksudku menyukai itu tidak perlu alasan. Hehehe, kamu baru suka kan? Belum cinta?
Akhirnya setelah rentang waktu yang cukup lama, aku memberanikan diri untuk membalas pesanmu.
"Maaf ya,"balasku.
Cuma kalimat itu yang bisa aku tuliskan. Aku teramat takut menyakiti perasaanmu. Lebih takut lagi kehilangan kamu yang selama ini menjadi temanku. Yang aku tau, seorang lelaki yang menyukai seseorang perempuan, atau sebaliknya, kemudian salah satunya mengungkapkan perasaannya yang mendapatkan respon tak sesuai dengan harapannya, hubungan di antara keduanya akan merenggang bahkan berubah menjadi seperti orang asing yang tak saling kenal. Aku tidak ingin hal semacam itu terjadi dipertemanan kita.
Maaf jika jawabanku mematahkan harapanmu. Maaf jika aku menyakiti perasaanmu. Maaf jika aku dianggap menginjak harga dirimu sebagai seorang lelaki yang sudah memberanikan diri untuk jujur terhadap perasaannya, namun malah mendapat penolakan dari perempuannya. Hahaha benar katamu, aku memang terlalu banyak meminta maaf.
Hei,
Bukankah kita sudah saling menyayangi? Bukankah kita sudah saling memiliki, sebagai seorang teman? Lantas hal apalagi yang kamu inginkan? Aku rasa itu sudah cukup. Tak perlu kita berubah menjadi lebih dari sekadar teman jika kasih sayang dan rasa memiliki sudah kita rasakan bukan?
1 Komentar
Tidak ada yang salah dengan cinta. Jika cinta itu murni ada dalam benaknya, seharusnya ia akan tetap ada walaupun seseorang menolaknya.
BalasHapusWalaupun ada di tenagh-tengah persahabatan, itu bukan masalah.
Hanya saja mungkin akan terasa beda jika bercampurlah keduanya.