Terlihat seorang gadis duduk seorang diri di antara kerumunan orang yang saling berkelompok. Di sebelahnya terdapat susu kotak rasa cokelat yang ia minum disela-sela membaca novel tentang petualangan dan pertemanan. Dua hal yang ia sukai. Ia terlihat asyik dengan dunianya tanpa mempedulikan sekitar. Bola matanya menggambarkan rasa antusias dan penasaran terhadap novel yang ia pegang. Ia membuka lembar demi lembar dan menantikan seperti apa kelanjutan cerita yang dibacanya. Gadis itu terlihat bahagia dengan kesendiriannya. Namun, tidak semua yang tampak oleh pelupuk mata menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Di dalam hatinya, ia menyimpan sebuah kesedihan.
Di usianya yang menginjak 18 tahun ini, ia merasa semakin kehilangan orang-orang terdekat yang ia anggap teman. Kenyataannya, ia memang tidak terlalu memiliki banyak teman, entah karena kurang bersosialisasi atau ia terlalu membosankan untuk dijadikan seorang teman. Terkadang ada beberapa orang yang menganggap dirinya terlalu jutek, menyeramkan, dan sombong hanya karena mimik muka yang memang pada dasarnya begitu adanya. Sejujurnya, ia ingin sekali mengatakan bahwa yang mereka lihat tidak sepenuhnya benar. Ia tidak sejutek seperti yang terlihat. Namun, ia hanya diam. "Sudahlah, itu hak dia buat berpendapat,"katanya.
Gadis itu akhirnya tidak membantah lewat kalimat, melainkan melalui pembuktian. Ia mencoba untuk selalu menampilkan senyum terhadap orang-orang di sekitarnya. Lagi-lagi tindakannya disalahkan.
"Gak usah sok cantik," kalimat yang terucap lewat bibir manis seniornya.
Entahlah, mengapa orang mudah sekali menghujat dan menilai suatu hal dari sisi negatif.
Muka gadis tersebut pun terlihat polos, yang membuat ia sering dimanfaatkan oleh orang-orang disekitarnya. Selain itu, sikapnya yang sering merasa tidak enakan semakin membuatnya menjadi sasaran empuk untuk proses memanfaatkan teman.
Selain mimik muka, ia juga merasa kurang memiliki teman karena sifatnya yang pendiam. Gadis itu mengakui ia memang kurang lihai dalam hal berkomunikasi. Coba perhatikan, jarang kan ada orang yang mau berteman dengan orang yang membosankan dan tidak asyik untuk diajak berbincang dan bertukar pikiran? Ya, ia juga sadar diri. Namun sejatinya teman-teman, ia bisa menjadi pendengar yang baik, ia mencoba memahami perasaan kalian ketika bercerita, dan yang harus kalian ketahui, ia mencoba untuk memberikan respon sebaik-baiknya walaupun terkadang responnya tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan. Tapi setidaknya, pahamilah, ia telah berusaha memikirkan kalimat seperti apa yang harus ia ucapkan.
Oh iya ada satu hal -atau mungkin masih banyak lagi- yang membuat gadis itu jarang memiliki teman, yaitu sifatnya yang tertutup! Ia bukan termasuk tipe orang yang senang bercerita, khususnya menceritakan masalahnya. Menurut gadis itu, ketika ia bercerita ia takut menambah beban yang ia punya ke orang yang menjadi tempatnya bercerita, padahal mungkin saja orang tersebut juga sedang memiliki banyak masalah. Tapi, menurut orang-orang di sekitarnya, ternyata cerita itu membuat mereka senang karena telah dipercaya menjadi tempat untuk bercerita. Akhirnya, ia sedikit demi sedikit mulai bercerita, walaupun sekadar tentang kesehariannya, untuk masalah pribadi ia masih sering menyimpannya seorang diri.
Mari kembali lagi ke pokok masalah, semakin dewasa semakin kehilangan banyak teman. Gadis itu merasa ia semakin sendirian ( dalam konteks tidak memiliki seorang teman). Ia memiliki beberapa teman, namun hanya sekadar "teman". Gimana sih ya? Kalian pasti dapat memahaminya, 'kan? Gitu deh pokoknya. Tidak seperti ketika ia berada di masa putih-abu, putih-biru, bahkan merah-putih. Masa-masa tersebut ia merasakan ketika kekompakan sedang berjaya-jayanya. Tidak seperti sekarang yang individualis, egois, dan saling menjatuhkan. Ternyata, memang masanya yang sudah berubah,ya, sudah waktunya untuk bersaing dan sifat-sifat tersebut memang wajar jika bermunculan. Ia mulai belajar untuk menghadapi segalanya sendirian. Toh, memang ia sudah terbiasa melakukan sesuatunya seorang diri, 'kan?
Walaupun seperti itu, gadis itu tetap saja merasakan kesedihan (bagaimana tidak, mana ada kan seseorang yang merasa bahagia jika tidak memiliki teman?).
Sependiam, setertutup, semembosankan apapun ia, tetap saja membutuhkan seorang teman. Sebenarnya orang-orang pendiam seperti gadis tersebut membutuhkan ajakan untuk berbincang, berpendapat, atau hanya sekadar bercanda. Bukan malah diperlakukan diam lagi.
Di akhir tulisan ini, si gadis berharap ia akan menemukan seorang teman yang ingin berteman dengannya dengan tulus, melengkapi kekurangannya, menasihatinya kala ia melakukan kesalahan. Teman yang bisa ia ajak naik gunung, berpetualang, menemaninya membeli buku, menonton, melakukan hobi-hobinya, pun sebaliknya. Teman yang mendekatinya bukan karena kepentingan tugas dan setelahnya menghilang entah ke mana. Teman yang walaupun tidak selalu ada, namun akan sigap menyediakan telinga dan pundaknya untuk mendengarkan dan menampung segala keluh kesahnya. Teman yang akan menggapai tangannya ketika ia terjatuh. Teman yang tidak meninggalkan ia walaupun semembosankan apa pun berada di dekatnya.
------
Kamu bukan yang ia cari?
------
0 Komentar