Mengapa dipilih jika kautak
percaya? Mengapa diajak jika tak kauanggap
ada?
Beberapa
tahun yang lalu, aku berkenalan dengan seorang gadis pendiam dan kaku, sebut saja
Reina. Aku dan dia saling mengenal dan tahu baik-busuk masing-masing, sangat
tahu. Aku tahu kesukaan, hobi, apa yang ia tak suka, cita-cita, cowok yang ia
suka, masa lalu, bahkan tindakan-tindakan menggelikan yang pernah ia lakukan. Begitu
pun dengan Reina, ia bisa tahu kondisi hatiku, aku suka siapa, sebel ke siapa, tahu
kalau aku lagi bohong, dan tahu kalau aku sering pura-pura tersenyum padahal
hati sedang tidak baik-baik saja.
Aku
dan dia bagai pinang dibelah dua, tak terpisahkan. Banyak kesamaan sifat
antaraku dengan dia. Aku suka hujan, ia pun sama. Aku suka travelling, ia juga.
Aku tidak tahan dengan kondisi gelap, ia pun begitu. Oleh sebab itu, ia
merupakan seseorang yang sangat mengerti dan memahami diriku.
Hingga
sore itu, aku melihatnya termurung di tengah kerumunan orang yang sedang saling
berbincang. Ia sibuk dengan gawainya
dengan tatapan yang kosong. Tanpa bertanya pun aku tahu apa yang ada dipikiran
dan yang dirasakannya. Bibirnya bisa berbohong dengan menunjukan senyumannya. Tapi,
matamu tidak bisa berbohong, Na. Mata yang biasa berbinar, kala itu menampilkan
sebuah kesedihan. Senyuman itu hanya kepalsuan belaka.
PALSU.
Aku tahu, kau merasa
tidak nyaman di antara mereka. Aku tahu kaumerasa tidak dianggap ada. Aku tahu
kamu merasa menjadi manusia yang takberguna. Benar, kan, itu yang sedang
kaupikirkan?
Aku tahu itu susah, Na.
Dengan sifatmu yang tak percaya diri tampil di depan banyak orang. Sifatmu yang
tak sanggup mengeluarkan pemikiran di
hadapan mereka. Kamu yang terlalu takut untuk berbicara karena kamu sadar jika
kamu bersuara hanya akan menimbulkan kebingungan bagi yang mendengarkannya. Artikulasimu
yang tidak jelas hendak menyampaikan apa. Nada yang seolah hendak menangis jika
berbicara. Sebab itu kan kamu menjadi diam dan menyimpan ide-ide sendirian?
Karena sifatmu itu kamu
sering merasa tidak didengarkan. Di pilih namun tidak dipercaya. Menjadi orang
yang tidak dimintai pendapat padahal sebenarnya kamu ada disitu. Tidak dianggap
ada.
Tidak dianggap ada
Dianggap TIDAK ada
TIDAK DIANGGAP ADA.
Menyedihkan. Sungguh. Bagi
mereka mungkin suaramu hanya desing yang tak berarti. Ada-tidaknya dirimu di
sana bukan suatu masalah. Seperti itu, kan, yang ada dipikiranmu?
Hei Reina sayang,
sejujurnya mungkin itu semua hanya pola pikirmu saja. Mindset yang telah
tertanam di otakmu. Pikiran-pikiran negatif yang menghancurkanmu.
Dengarkan, tidak
selamanya apa yang kamu pikirkan itu benar. Asumsimu terhadap suatu keadaan
bisa saja salah. Kamu hanya manusia, Reina. Tidak sepatutnya membenarkan
segalanya. Apalagi itu pemikiran-pemikiran yang kamu ciptakan sendiri.
Kamu menganggap semua
orang seolah salah dan menyalahkanmu. Dan kamu merasa benar dan membenarkan
pola pikirmu. Berhentilah melakukan hal itu. Semua yang kamu pikirkan hanya
akan menghambat kesuksesanmu.
Jika kamu merasa tidak
mahir dalam hal berkomunikasi, ya belajar. Bukan malah sibuk membenarkan
pikiran-pikiran negatifmu. Menganggap orang lain jahat dan kaubenar sendiri.
itu tidak baik, Na.
Kau merasa tidak
dipercaya? Tidak dianggap ada? Cobalah berkaca. Hal-hal apa yang sekiranya
membuat perasaan-perasaan seperti itu bisa muncul dipikiranmu. Pikirkan baik-baik.
Jangan seenaknya menyalahkan orang lain. Suatu keadaan bisa muncul karena ada sebabnya.
Cari tahu penyebabnya, perbaiki, selesai. Jika gagal? Coba lagi. Bukankah kita
hidup salah satunya untuk mencoba ilmu-ilmu baru?
Jangan menyerah, Reina.
Bukankah kamu bercita-cita menjadi seorang presenter traveler atau kuliner? Bagaimana
mewujudkan itu semua jika skill dasar, komunikasi, tidak kamu kuasai?
“Yaudah
gapapa, kan kalo ga jadi presenter aku bisa jadi penulis?”
Kamu pasti bakal
menjawab seperti itu,kan? hahahahaha.
Walaupun menjadi
seorang penulis pun, ilmu komunikasi tetap harus kamu pelajari. Bisa saja kamu
menjadi penulis terkenal, lantas diminta mengisi sebuah acara talkshow, tentu kamu harus bisa
menyampaikan gagasan dan pengalaman-pengalamanmu lewat ucapan, bukan tulisan. Masa
ada seseorang yang bertanya, kamu akan menjawabnya melalui WhatsApp, misalnya?
Terus, jika kamu
ditanya, “Kenapa Anda suka menulis?”,
hanya akan kamu jawab, “Ya karena suka
aja.” Masa seperti itu, Na? Sungguh itu tidak lucu. Setidaknya jika kamu
tidak bisa menguasai ilmu komunikasi, biasakanlah untuk bercerita.
Kamu merasa ceritamu
kurang menarik? Itu hanya bagaimana kamu menyampaikannya. Bagaimana kamu bisa
mengolah gesture, ekspresi, dan nada saat bercerita. Susah? ya belajar!
Jika semuanya kauanggap
susah, yaudah jangan pernah bermimpi kesuksesan akan menghampirimu. Semua
kebahagiaan bisa diraih dengan suatu usaha, Reina. Kamu akan tertinggal jika
pikiran kunomu itu terus-menerus membatasimu.
Ayo berusaha.
-----
Setelah sesi “menasihati”
itu, aku melihat bola mata Reina sedikit bersinar kembali. Reina memasukan
gawai ke dalam saku, kemudian menghampiri mereka yang sedang berbincang, ikut
bersuara. Meskipun ia masih terlihat banyak diamnya, tapi setidaknya ia tidak
sendirian dipojokan, sibuk memainkan gawai seakan terasingkan dari dunia
sekitar.
Tidak apa Reina,
setidaknya kamu sudah berani memutuskan untuk tidak berdiam diri dan
menyalahkan nasib. Kamu bergerak dan percaya bahwa kesuksesan akan datang pada
orang yang mau berusaha.
-----
Ya, Reina adalah aku.
3 Komentar
Aku tertampar:( terima kasih atas motivasinya :') huhu
BalasHapushuhuhu alhamdulillah ada yang termotivasi
BalasHapusCerita yg ngga bisa ditebak. Aku kira org lain. Alur yg bagus ay 💛
BalasHapus