Bukan ingin mencari sensasi
Atau eksistensi di instagram story
Entahlah apa yang menggerakan hati
Hingga akhirnya, Selasa, 24 September 2019 memutuskan turun aksi
***
Sejujurnya aku bukan tipe anak yang suka terhadap hal-hal yang berbau politik dan hukum. Sering kali malah menghindarinya. Namun, entahlah apa yang bisa membuat hati tergerak untuk mengikuti aksi nasional di DPR RI.
Jika sebelum-sebelumnya aku hanya sekadar membaca dan tahu saja mengenai permasalahan politik, berbeda dengan hari kemarin. Sehari sebelum aksi, aku membaca serta mempelajari beberapa berita, tak lupa pula menonton video-video yang berisikan diskusi yang membahas tentang RKUHP, RUU KPK, RUU PKS. Memang, tidak sepaham orang-orang, tapi setidaknya aku sedikit merasa tercerdaskan. Seru juga ternyata.
Awalnya memang sempat ragu, karena salah satu dosen mengabarkan bahwa beliau hendak memberikan materi untuk UTS. Tentunya, sebagai mahasiswa tingkat akhir, aku tidak ingin tertinggal dalam hal materi. Namun, setelah menerima informasi bahwa beliau hanya melanjutkan materi sebelumnya dari kelas lain, akhirnya aku membulatkan tekad untuk tetap turun aksi.
Selain itu, tanpa diduga, Bapak yang biasanya selalu khawatir dan melarang, kali itu tidak, bapak mengizinkan aku. Wah. Hal langka.
"Iya gapapa kalo buat masyarakat. Tetep doa dan jaga diri. Bapak mendoakan dari sini. Tapi, kalo ragu mending gausah, ya. Niatin membela kebenaran, jangan sampe karena suatu oknum." Bapak mengirimkan pesan menggunakan bahasa Sunda, yang kalau aku terjemahin kurang lebih seperti itu.
Akhirnya, dengan menumpangi bus, rombongan dari kampusku menuju DPR RI. Sepanjang jalan, aku bertemu dengan mahasiswa kampus sebelah.
"Hidup Mahasiswa!" seru salah satu teman cowokku.
Tak kusangka, mahasiswa dari kampus sebelah pun ikut menyautinya. Maka terdengarlah suara, "Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa!" di awal pemberangkatan. Aku melihat semua temanku sangat antusias.
Sekitar 45 menit kemudian aku sampai di dekat gedung DPR. Rombongan dari kampusku memutuskan untuk salat terlebih dahulu. Kemudian, sekitar pukul setengah dua siang, rombongan kampusku mulai berjalan.
Aku dan beberapa teman perempuanku berada di antara border para lelaki.
"Oh gini ya aksi,"ujarku dalam hati.
Rombongan kampusku mulai berjalan sambil sesekali menyanyikan lagu-lagu nasional atau jargon-jargon yang berhubungan dengan aksi. Mahasiswa dari kampus lain pun melakukan hal yang sama. Saut menyaut. Beberapa mahasiswa tak lupa pula membawa spanduk, yang isinya serius ada pula hanya bahan bercandaan.
Setelah rombonganku berada hampir dekat dengan gedung DPR dan duduk sejenak, salah satu koordinator lapangan menyuruh untuk mundur kembali. Katanya di depan sudah mulai tidak aman. Selain itu, karena border terlepas, rombongan kami terbagi menjadi dua. Dari situ mulai terlihat raut stres dari para koordinator lapanganku.
Aku hanya mengikuti instruksi yang di berikan oleh koordinatorku. Berjalan mundur kembali ke titik semula kami datang. Dari sinilah pengalaman-pengalaman menegangkan di mulai.
Jadi, beberapa menit setelah rombonganku menarik mundur, keributan di depan gedung DPR semakin memuncak. Aksi yang awalnya berjalan damai, entah apa penyebabnya hingga berubah menjadi rusuh. Aparat mulai menembakan water cannon kepada para mahasiswa. Tak cukup itu, gas air mata pun mereka lemparkan untuk membubarkan demonstran yang mulai merengsek untuk masuk gedung DPR.
Jarakku yang sudah terbilang jauh pun masih bisa merasakan gas air mata tersebut. Kericuhan mulai terlihat di sekelilingku. Beberapa kali aku melihat mobil ambulans yang mengangkut teman seperjuanganku dari kampus lain. Aku melihat darah yang mengalir deras pun raga yang tergolek lemas. Khawatir. Cemas. Aku tidak bisa berbuat banyak selain mencoba untuk bertahan dan terus berdoa.
Semakin sore semakin terasa keributannya. Gas air mata mulai membuat mata perih dan pernafasan sesak.
"Ada yang punya odol?" "Bagi pepsod*ntnya!"
Beberapa teriakan terdengar. Aku yang tak mengerti keadaan, hanya mengikuti tindakan teman-teman yang mengoleskan odol ke bawah mata.
"Untuk sedikit mengurangi perih di mata akibat gas air mata,"ujarnya.
Saat aku mengoleskan odol, aku kehilangan rombongan kampusku. Yang ada di situ hanya aku dan dua orang temanku saja. Kami yang kebingungan memutuskan untuk tidak mencari dan bergabung kembali. Akhirnya, dengan nekad kami bertiga lari tunggang langgang menghindari gas air mata yang efeknya semakin mendekat.
Aku terus berlari menghindari gas air mata yang semakin membuat perih. Beberapa pagar aku lompati untuk menyelematkan diri. Nafasku tersegal namun tetap kupaksa untuk berjalan.
"Cari tempat aman dulu," ujarku pada diri sendiri.
Aku terus berjalan hingga menemukan masjid di sebuah kompleks. Aku dan dua temanku memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sambil mencuci muka dan salat magrib. Kulihat banyak pula beberapa teman dari kampus lain mulai memasuki masjid yang kusinggahi.
"Alhamdulillah, aku selamat,"ucapku sambil meluruskan kaki.
Aku tidak menyangka, keputusanku untuk mengikuti aksi diakhiri dengan tragedi. Tapi tentu aku tidak menyesal. Aku merasa bangga telah membersamai teman-temanku untuk menyuarakan aspirasinya. Meskipun yang kulakukan tidak banyak, aku rasa dengan turun ke jalan dan menyatukan semangat itu sudah termasuk kontribusi.
Sebagai seorang intovert yang lebih suka menghindar dari kerumuman, aksi kemarin mengajarkanku banyak hal. Tentang solidaritas, kerja sama, dan perjuangan.
Aku berterima kasih kepada teman-teman yang telah membersamai.
Kepada teman-teman yang pantang menyerah memperjuangkan hak asasi.
Kepada teman-teman yang tetap berdiri tegar meskipun dikhianati.
Perjuangan memang tidak selalu harus turun aksi. Namun apa salahnya jika ikut berkontribusi?
Tapi tetap saja, semua tergantung hak pilih masing-masing
Baik yang turun aksi
Atau yang memilih mendoakan dengan hati
Semoga tidak ada kata menyesal atas keputusan yang telah dipilih.
0 Komentar