Festival Fotografi Kompas 2018 mengangkat tema Sportscapes. Kegiatan diselenggarakan pada 31 Juli- 5 Agustus 2018 dan terbuka untuk umum. Dalam festival tersebut terdapat pameran yang berisikan kegiatan-kegiatan olahraga, diskusi/workshop yang dibagi dalam 21 diskusi dengan 56 narasumber, kumpul komunitas fotografi, peluncuran buku Sportscapes, dan juga 5 lomba fotografi. Kegiatan tersebut bertempat di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan.
Kali ini aku akan membagikan pengalaman yang di dapat pada salah satu diskusi yang bertema "Memanfaatkan Gawai ntuk Membuat Foto Bagus". Sebenernya nulis ini juga karena terbiasa dapet tugas dari dosen ke pameran sama diskusi gitu buat bikin resensi dan laporan diskusi wkwk. Selain itu, lagi pengen ngelatih diri aja biar terbiasa nulis. Terus rasanya pengen ngebagiin ilmu yang aku dapet aja dari diskusi kemaren, biar sedikit ada manfaatnya isi blogku ini hehe.
Diskusi diselenggarakan pada Rabu, 1 Agustus 2018. Narasumber yang mengisi materi ialah Priyombodo (Pewarta Foto Kompas). Sebenernya, ada dua orang yang jadi pengisi materi, namun yang akan aku tulis di sini hanya dari Priyombodo saja.
Zaman sekarang, gawai tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi saja. Gawai yang kita gunakan bisa membawa dampak positif dan negatif tergantung kita memanfaatkannya.
Seperti yang dilansir kompasiana.com, dampak positif penggunaan gawai, ialah:
1.Memudahkan untuk berbisnis
2.Mempermudah manusia untuk mengerjakan tugas-tugas,bisa menulis secara mudah,dan cepat
3.Mudah mendapatkan informasi
Sedangkan dampak negatifnya, ialah:
1.Dapat menggangu kesehatan tubuh seperti mata, kerusakan punggung
2. Lupa waktu
3. Mengakibatkan seseorang kurang berinteraksi dengan orang lain karena terlalu fokus dengan gawainya
4. Kecanduan
Fungsi gawai yang selama ini dikenal sebagai sarana komunikasi kini telah berubah menjadi multifungsi. Gawai bisa digunakan untuk memotret, menonton film, memesan makanan, bermain games, dll. Untuk kali ini, aku mau membahas tentang gawai yang berfungsi untuk memotret.
Sebenernya kriteria gawai yang kita butuhkan untuk kegiatan sehari-hari itu tergantung kebutuhan dan tentunya budget setiap orang.
Saat ini, banyak merek-merek gawai yang membanggakan fitur kamera mereka. Ini jelas menandakan bahwa gawai bukan lagi sekadar sarana komunikasi.
Banyak orang menggunakan gawai untuk memotret karena alasan cepat dan tidak ribet. Namun kenyataannya, memotret menggunakan gawai tidak selamanya menguntungkan, karena terkadang kita akan kehilangan momen. Hal ini terjadi karena kamera pada gawai terdapat jeda beberapa detik sebelum dapat menghasilkan foto.
Untuk itu, dalam memotret menggunakan gawai terdapat dua unsur yang harus diperhatikan: yang pertama yaitu diri kita sendiri, kedua teknologinya. Secanggih apapun gawai yang digunakan kalau orangnya kurang menguasai hasilnya tentu tidak akan maksimal.
Jika kita akan memotret menggunakan gawai, sebaiknya dekati obyek. Mengapa demikian? Apabila kita menggunakan fitur zoom agar terlihat lebih dekat, maka hasilnya akan pecah. Selain karena men-zoom, biasanya foto akan pecah karena dalam mengambilnya tangan kita bergoyang. Hal ini bisa disebabkan oleh cahaya yang kurang, objeknya bergerak, atau pemotretnya yang bergerak. Untuk mengatasinya, kita bisa menggunakan tripod (sekarang sudah banyak beredar tripod yang dapat digunakan oleh gawai) atau bisa juga dengan bersender ke dinding tembok.
Gawai saat ini telah menyediakan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk mengedit foto agar terlihat kuat dan bagus. Namun, dalam mengeditnya, terutama dalam dunia jurnalistik, jangan berlebihan. Cukup sekadarnya.
Untuk menghasilkan foto yang bagus, tentulah kita harus sering-sering berlatih. Seperti kata pepatah, bisa karena terbiasa. Pada dasarnya, fotografi itu memang perlu dipraktikan, bukan hanya menghapal teori. Dari praktik kita bisa mempelajari, memahami, dan mengetahui berbagai sudut pandang dalam pengambilan foto. Selain itu, jika terbiasa memotret, naluri kita akan berjalan dengan sendirinya untuk peka terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di sekeliling kita. Tapi, tentu saja teori juga tetap penting, namun lebih dominan praktik.
Selain latihan memotret, bisa juga dengan menilai karya orang lain. Latihan seperti ini bisa dengan membuka internet atau datang ke tempat pameran. Dengan melihat pameran kita bisa "mencontoh" komposisinya dan menerapkannya dengan objek yang berbeda.
Kesimpulannya, gawai itu pada dasarnya tidak dirancang untuk memotret. Sehingga masih terdapat kekurangan yang dimiliki gawai jika digunakan untuk mengambil foto. Gawai dapat digunakan dalam situasi yang tak terduga seperti ketika tidak membawa kamera atau jika mengambil kamera terlebih dahulu akan kehilangan momen.
Seperti yang tertulis di atas, gawai bisa memberikan manfaat tergantung orang yang memakainya. Jadi, mau memanfaatkan gawai atau dimanfaatkan gawai?

0 Komentar