Advertisement

Aku dan Cita-cita




Jika berbicara mengenai cita-cita, setiap orang pasti berbeda. meskipun saat di sekolah dasar, rata-rata akan menjawab, “Aku ingin jadi dokter bu guru” atau profesi lainnya yang sudah familier, seperti polisi, guru, tentara, bidan.

Namun, biasanya seiring berjalannya waktu, cita-cita yang disebutkan saat sekolah dasar akan berubah. Setelah beranjak remaja hingga dewasa, kita akan mengetahui ternyata profesi tidak hanya sekadar dokter atau guru saja. Sebenarnya, sejak TK pun kita telah dikenalkan pada berbagai jenis profesi, namun biasanya memang profesi-profesi familer saja yang terkenal di kalangan anak sekolah dasar.

Sama seperti kebanyakan anak SD, dulu, aku bercita-cita ingin menjadi dokter. Masuk ke SMP, cita-citaku berubah kembali, aku ingin menjadi penulis, guru, dan psikolog. SMA pun cita-citaku masih berubah. Aku ingin menjadi ahli gizi, pengusaha, dan treveler.

Aku ingat saat itu ada seorang guru yang menyuruh kami siswa kelas 11 SMA menuliskan rancangan hidup dan cita-cita di selembar kertas. Beberapa siswa di persilakan untuk maju dan menjelaskan cita-cita yang telah mereka tulis. Ada temanku yang menuliskan menikah menjadi cita-citanya. Hahaha, seisi kelas tertawa.

Tentu itu tidak masalah, itu hak dia, dan kembali lagi, setiap orang pastinya memiliki cita-cita yang berbeda. Kita akan mencapai kesuksesan dengan jalan dan cara masing-masing, bukan?

Aku sendiri menuliskan banyak hal di kertas tersebut. Selain tiga profesi yang telah aku sebutkan tadi, ada keinginan lainnya yang semoga saja dapat aku raih di kemudian hari.

Pertama, aku memiliki cita-cita ingin memiliki rumah atau sebuah villa di pegunungan. Di sekeliling rumahku terdapat perkebunan sayur, buah, atau hasil kebun lainnya milik aku sendiri. Selain itu, aku pun ingin memiliki perkebunan teh. Aku sudah membayangkan betapa enaknya memiliki banyak usaha perkebunan yang dekat dengan rumah.

Keinginan tersebut terinspirasi dari film dan novel-novel yang kubaca, yaitu buku Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye dan Film Heart. Dari buku Tere Liye, aku membaca kisah Kak Laisa yang mengubah perekonomian keluarganya. Ia mengembangbiakan perkebunan stoberi, dari yang awalnya gagal hingga ia memiliki berhektar-hektar perkebunan.

Selain dapat memberikan keuntungan untuk dirinya sendiri, ia pun dapat membantu masyarakat dengan membuat lapangan pekerjaan untuk mereka. Bahkan Kak Laisa pun tak pelit dengan ilmunya. Ia menyebarkan ilmu tentang menanam stoberi kepada masyarakat sekitar sehingga mereka pun dapat menanam dan menghasilkan keuntungan sendiri. Ia tulus tanpa takut usahanya disaingi oleh orang lain.

Dari situlah aku bermimpi memiliki perkebunan sendiri. Aku pun dapat menjalankan tugasku sebagai manusia yang memberikan manfaat untuk orang lain.

Untuk perkebunan teh, alasannya karena aku sangat ingin pergi ke sana. Sampai saat ini aku belum pernah bermain di kebun teh, aku hanya melihatnya di televisi, salah satunya film Heart itu. Lokasi syuting mereka memang berada di sekitaran puncak yang memiliki banyak perkebunan teh. Makanya, aku berkeinginan untuk memiliki perkebunan teh sendiri, supaya aku bisa bermain sepuasnya di sana hehehe.

Selain itu, aku ingin juga memiliki peternakan sendiri, kalau  Idul Adha aku dapat membagikan daging kurban secara rutin tiap tahunnya. Selain itu, aku pun ingin membagikan daging gratis kepada masyarakat yang kekurangan. Sehingga, daging tidak hanya untuk kaum elit saja, tapi masyarakat biasa pun dapat menikmatinya.

Kedua, cita-citaku ialah membangun sekolah, masjid, pesantren, dan puskesmas sendiri. Untuk sekolah. Fokusku ialah untuk mereka yang kurang mampu untuk membiayai sekolah anaknya. Mereka yang nantinya sekolah tidak masalah jika hanya mengenakan alas kaki seadanya atau tanpa alas kaki sekali pun. Memakai baju yang tidak formal. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Yang penting, mereka memiliki semangat yang tinggi untuk belajar dan pantang menyerah. Rasanya akan senang sekali bisa melihat segerombolan anak-anak yang antusias belajar, ingin tau akan banyak hal, dan mau berbagi ilmu antar sesama.

Lagi-lagi keinginan itu muncul setelah aku membaca buku Tere Liye Serial Anak Mamak. Di sana di ceritakan seorang guru Honorer, Pak Bin, yang dengan tulus mengajarkan ilmu kepada muridnya. Meskipun ia mendapat gaji seadanya, ia tidak mempermasalahkan itu. Pak Bin selalu mengajarkan bahwa pendidikan itu penting, jangan merasa minder dengan penampilan. Yang penting kita selalu jujur, pantang menyerah, dan mau berusaha. Penampilan hanya nomer sekian dari otak yang cemerlang.
Tolong sisain guru setulus Pak Bin:)

Pesantren dan Masjid. Aku ingin kegiatan yang aku bangun tidak hanya sekadar urusan dunia saja. Makanya aku ingin membangun dua bangunan tersebut. Pasti akan sangat menyejukan hati mendengar lantunan ayat Alquran yang dibacakan oleh anak-anak atau pemuda-pemudi di sana. Masya Allah.

Puskesmas. Kenapa aku ingin membangun ini? sebab aku merasa kesal dengan pelayanan kesehatan di desaku dulu. Di mana orang yang tidak memiliki uang atau menggunakan kartu bebas pembayaran beberapa sering tidak diutamakan. Aku tidak tau daerah lainnya seperti apa, mungkin ada yang lebih baik pelayanannya –atau sama saja seperti pengalamanku. Entahlah.

Aku mengutarakan seperti ini sebab aku pernah melihat kejadiannya secara langsung. Ada pula yang kudapat dari siaran televisi. Oleh sebab itu, aku berkeinginan keras untuk membangun rumah sakit/puskesmas yang memperlakukan pasiennya secara adil.

Ketiga, selain hal-hal di atas, aku sangat menyukai petualangan di alam atau hanya sekadar jalan-jalan menikmati kebudayaan. Sehingga, aku ingin sekali bisa menjadi presenter traveling atau kuliner. Aku ingin menjelajahi setiap sudut Indonesia dan juga dunia. Belajar budaya dari setiap daerah. Memahami keanekaragaman. Membuka wawasan. Berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar. Menikmati keindahan alam. Menjelajahi kuliner. Mengeskplor kekayaan alam.

Aku juga sangat suka akan kegiatan-kegiatan sosial. Ingin rasanya menjadi pemerhati kehidupan sosial atau lingkungan juga boleh. Syukur-syukur bisa jadi menteri hehehe Aamiin aja dulu.

Keempat, aku ingin menjadi seorang penulis. Sebab, dengan menulis aku dapat memberikan ilmu dan pengetahuan kepada mereka yang membacanya. Jika nanti aku meninggal pun, seenggaknya aku masih memiliki karya tulis yang masih bisa diminati dan memberikan manfaat untuk orang sekitar.

Dengan menulis, tidak hanya menuangkan ide dan gagasan saja. Terkadang aku pun dapat menyampaikan perasaanku, sedih-senang. Mungkin itu tidak akan terlalu berpengaruh untuk orang sekitar, namun setidaknya dapat meringankan sedikit beban di hatiku.  
--------------
Entahlah, mimpi mana yang nantinya bisa kuraih. Aku berharap semoga semuanya dapat terwujud dan Allah meridho mimpi-mimpiku itu. Untuk saat ini, aku hanya bisa menuliskannya saja. Sebab, katanya, impian akan tercapai jika kita menuliskannya.


So, ayo, tulis mimpi-mimpimu!


Posting Komentar

0 Komentar