Advertisement

Aku, Pendidikan, dan Harapan

Sumber : Google


Libur semester genapku sebenarnya sudah sejak awal Februari, namun karena beberapa alasan, aku baru bisa pulang ke Cilacap hari Minggu kemarin (17/2). Biasanya aku naik bus dari Terminal Depok, karena kemarin berangkat ke terminalnya terlalu siang, aku tertinggal bus yang biasanya kunaiki.

Bus yang ke arah rumahku cuma ada satu dari situ, jadi pilihannya nunggu bus yang malam, naik bus yang jurusannya beda dan harus naik bus lainnya lagi untuk sampai rumah, atau ke Terminal Kampung Rambutan. Aku memilih untuk ke Terminal Rambutan.

Perjalanan dari Terminal Depok menuju Terminal Kampung Rambutan sekitar 1 jam. Sesampai di sana, aku bingung, “Ini pintu masuknya di mana ya?”, udah mah banyak banget orang yang nanya-nanya, “Mau kemana mbak?”, “Antarkota atau dalam kota mbak?” “Sini saya anterin mbak ke dalam, saya bawain barang bawaannya.”

Sebenernya aku udah pernah ke sana, tapi sama orang tuaku. Kalau sendiri kaya kemarin itu bener-bener pengalaman pertamaku. Untungnya, pas udah masuk pintu gerbang yang langsung ke arah busnya, ada bapak-bapak kondektur bus yang akan aku naiki. Aku ikuti si bapak dan akhirnya masuk ke dalam bus.

Di dalam bus, aku taruh barang bawaanku di dekat jendela dan aku duduk di kursi yang satunya lagi. Abis itu aku tidur-tiduran ayam deh. Ini adalah salah satu trik yang diajarkan ibuku kalau aku pulang/berangkat sendiri biar ga duduk sama orang lain, terutama cowok. Wkwkwkwk tapi beneran deh, itu ampuh.

Perjalanan ke rumahku selama 9 jam, aku berangkat pukul 08.00 dan nyampe pukul 05.15. Biasanya sih cuma 8 jam, tapi karena kemarin ada pohon tumbang, jalanan jadi macet. Singkat cerita, sesampai di depan rumah, ibu sudah menungguku di bahu jalanan. Ia mengenakan daster seadanya dengan jilbab merah kesukaannya. Di tangannya terdapat payung hijau yang siap melindungiku dan ibu dari hujan yang turun waktu itu.

Bapakku pun sudah menunggu di depan rumah. Aku cium tangannya sambil mengucap salam. Setelah itu, kupeluk ibu dan mencium kedua pipinya. Rindu? Ya sangat. Setengah tahun tak pulang, ibu terlihat makin kurus, muka lelah tampak di wajah bapak.

Mereka berdua ialah motivasiku dalam belajar. Jika malas, aku teringat ibu dan bapak. Rasanya tidak tega, mereka udah kerja banting tulang, tapi aku di kampus malas-malasan. Belajar ga bener. Gak ngerjain tugas. Bukan ngilangin tanggung jawab terhadap dosen doang, tapi orang tua juga. Mereka nyekolahin aku jauh-jauh dari Cilacap. Masa aku mau ngecewain gitu aja?

Selain itu, udah jadi kebiasaan kalo aku pulang kampung selalu main di rumah tetangga, sekadar ngobrol atau menengok anaknya yang baru lahiran, misalnya. Aku emang hobi jajan, makanya banyak juga pedagang langganan aku, yang kalau aku pulang selalu nyapa dan menanyakan kabar. Dari sana sering kali mereka pun tak lupa menanyakan bagaimana kuliahku.

Ayu kuliah sakumaha tahun dei?” (Ayu kuliah berapa tahun lagi?”), Jurusan naen si nya? Poho,” (Jurusan apa sih ya? Lupa), “Ges betah lain, Yu, di Depok?” (Udah betah kan, Yu, di Depok?) . Dari sekadar basa-basi seperti itu, hingga ujungnya selalu diberikan nasihat-nasihat.

Sekolah sing bener nya, peperihen ibu mah hemo bisa nyakolahken anak ibu sampe kuliah. Bisa SMA ge Alhamdulillah,” (Sekolah yang bener ya, gak kaya ibu yang gak bisa nyekolahin anak ibu sampai kuliah. Bisa SMA aja udah Alhamdulillah.)

“Buru lulus, ngke neangan gawe nu bener, boga gaji gede. Bersyukur keluarga Ayu mah boga duit gan sakola, manfaatkeun, ulah kaulinan sakolana.” (Cepet lulus, ntar cari pekerjaan yang bener, punya gaji besar. Bersyukur keluarga Ayu mah punya uang buat sekolah. Dimaanfaatin, jangan main-main kuliahnya.)

Ya. Menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi ialah hal yang masih langka di daerahku. Kebanyakan dari mereka hanya menyekolahkan anaknya hingga SMA/SMK, bahkan ada pula yang hanya SMP. Banyak pula anak SMA/SMK yang keluar dari sekolah dan memilih untuk bekerja.

Penyebab utama masalah ini ialah perekonomian keluarga. Banyak keluarga yang mengorbankan –atau anaknya sendiri yang berkorban, anak pertama atau kakak-kakaknya untuk berkerja agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah. Makanya, aku bersyukur kepada Allah telah memberikan rezeki yang cukup sehingga semua anggota keluargaku dapat merasakan duduk di bangku perkuliahan.

Selain perekonomian keluarga, yang aku perhatikan, dorongan orang tua dan kemauan anaknya sendiri untuk melanjutkan sekolah pun masih kurang. Bahkan di daerah yang makin ke arah pegunungan lebih memilih menyuruh anaknya bekerja walaupun mereka memiliki biaya yang cukup untuk menyekolahkan anaknya hingga universitas.

Pendidikan masih dianggap “kurang” penting bagi golongan mereka, terutama para orang tua terdahulu, sebab beberapa masih beranggapan, terutama untuk perempuan, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau nantinya tetap di dapur?”. Aku sendiri tidak sepenuhnya dapat menyalahkan pola pikir mereka, sebab hal itu merupakan kebiasaan –atau apalah namanya, yang telah turun temurun di lingkungannya. Untuk mengubah pola pikir mereka pun tentu bukan perkara mudah. Harus benar-benar sabar dalam memberikan pengertian bahwa sekolah itu penting.

Terkadang, ada pula orang tuanya sangat menginginkan anaknya sekolah, namun anaknya sendiri enggan untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini biasanya disebabkan oleh lingkungan sekitar atau pergaulan anaknya. Jika kebanyakan anak di sekitar sana tidak sekolah, dan si anak bergabung dengan mereka, maka ia akan lebih merasa senang bermain karena teman-temannya pun tidak bersekolah.

Pernah suatu hari, ada seorang ibu yang datang ke rumahku. Fyi, ibuku mempunyai sepetak warung, sering kali ibu-ibu berbelanja kemudian lanjut bercerita, maklum, emak-emak. Saat itu memang aku sedang berlibur, seperti saat ini. Ibu tersebut basa-basi denganku, menanyakan sekolahku. Lama-kelamaan, si ibu bercerita kalau ia capai menasihati anaknya untuk sekolah.

Anaknya ini sudah kelas 2 SMK, namun belakangan sering tidak masuk sekolah dan memilih untuk bekerja di bengkel dan terkadang ikut membantu menjahit. Menurut si ibu, ia bisa bekerja keras untuk mencari uang agar anaknya dapat bersekolah, namun jika anaknya sendiri tidak ingin sekolah, ia harus apa? Di nasihati sudah, lama-lama ia merasa bodo amat, terserah anaknya mau melakukan apa. Saking capainya menasihati.

Kalau sudah seperti itu, menurut kalian bagaimana? Sejujurnya aku sendiri juga bingung sih waktu itu nanggapinnya harus gimana. Si ibu yang sudah berusaha, namun anaknya tetap keras kepala dan kukuh pada pendiriannya untuk tidak melanjutkan sekolah.

Mungkin memang benar ya, pencerdasaan tentang pentingnya pendidikan harus lebih digencarkan lagi di lingkunganku. Supaya mereka tau, pendidikan itu sangat penting. Ilmu yang mereka miliki dapat mengangkat derajat kedua orang tuanya. Dapat membuka pintu-pintu kesempatan yang lebih besar.

Ilmu yang didapat dari proses pendidikan akan lebih bermakna dan memberikan kebahagiaan daripada kekayaan. Uang dapat memberikan kepuasaan, tapi pendidikan memberikan kita pembelajaran.

Ah, memang keluar dari zona nyaman itu bukan perkara mudah ya. Perlu tekad dan niat yang kuat.

So, aku menjadi manusia ambis di kampus dan terlihat cupu atau terlalu serius dalam belajar bukan karena ingin menjadi yang terhebat. Aku membawa "beban" harapan bukan hanya dari keluargaku saja, tetapi dari tetangga dan saudara-saudaraku. Mereka akan senang melihat salah satu anak tetangganya bisa mengenakan toga dan syukur-syukur menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya.

Mereka akan ikut berbahagia melihat salah satu anak tetangganya, saudaranya, sukses dalam bidangnya. Selain itu, aku pun ingin menunjukkan, bahwa pendidikan itu penting. Setidaknya aku ingin menjadi motivasi agar mereka pun dapat menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk berkuliah.

Rezeki sudah ada yang mengaturnya. Jika kita akan menggunakannya dalam hal kebaikan, InsyaAllah Allah akan memudahkan jalan kita. Terus berdoa dan bekerja keras. Yakin bahwa kita bisa.

(Ya, walaupun belajar tidak hanya di bangku sekolah saja, tapi setidaknya sekolah ialah salah satu tempat yang memberikan kesempatan dalam belajar.)


Sekian, mohon maaf pula jika tulisannya tidak terarah, entahlah ini semua mengalir begitu saja, tau-tau udah 1.226 kata aja hahahaha.

Yuk, ubah paradigma kita akan pendidikan!

PS. Mohon maaf kalau aku ambis ya, teman-teman hehehehe





Posting Komentar

2 Komentar