sumber: Smartekselensia.com
Beberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah thread di Twitter tentang seorang perempuan yang hobinya tertidur saat jam pelajaran di masa SMA. Sebenarnya, ia menginginkan masuk ke jurusan Sastra, sebab ia menyukai seni tulis dan lukis, namun karena peminatnya sedikit, jurusan tersebut dihapuskan. Akhirnya, ia memilih masuk ke IPA, sesuatu yang tidak sesuai dengan minat-bakatnya dan yang menyebakan ia selalu tertidur di kelas.
Setelah lulus SMA, Ia diterima di ITB dengan jurusan yang sesuai dengan passionnya, yaitu Desain Komunikasi Visual. Anak yang zaman SMA-nya dikenal dengan sebutan “Si Tukang Tidur”, tanpa disangka dapat masuk ke sebuah universitas terbaik di Indonesia.
Selain thread tersebut, aku juga membaca tweet tentang pentingnya kemampuan/skill dan almamater. Ada sebuah tweet yang menyebutkan bahwa almamater tidak terlalu dipermasalahkan saat melamar kerja. Sebab, kita akan lebih ditanya “lo bisa apa” bukan “asal kampus mana?”.
Namun, tidak semua warganet twitter setuju dengan tweet tersebut. Beberapa mengatakan bahwa almamater pun penting dalam perekrutan. Seperti BUMN, misalnya. Ia menginginkan calon pekerjanya berasal dari kampus ternama. Selain itu, katanya, kebanyakan mahasiswa yang lulus dari kampus ternama akan memiliki jaringan yang luas. Sehingga akan memudahkan dalam mencari pekerjaan.
Untuk poin kemampuan dan almamater ialah hal penting dalam melamar kerja, aku menyetujuinya. Namun, alasan yang mengatakan bahwa mahasiswa yang berasal dari kampus ternama akan memiliki jaringan luas, aku kurang setuju. Sebab apa? Hal itu tergantung pada setiap individu dalam mencari dan memperluas pertemanan. Tidak semua mahasiswa di univeritas bagus memiliki koneksi yang luas dan tidak semua mahasiswa dari kampus yang “kurang terkenal” memiliki jaringan yang sempit.
Dari tweet-tweet tersebut, membuat aku kembali berpikir akan masa depanku. Mau jadi apa aku 5-10 tahun yang akan datang? Apakah aku akan sukses? Atau malah masih bingung mencari apa yang aku inginkan? Wallahualam..
-----------------------
Saat sibuk mengurusi akan masuk kampus mana dan jurusan
apa, sebenarnya aku bingung. Hingga akhirnya, dari proses mengoogling dan
bertanya, aku tertarik kepada jurusan yang berhubungan dengan kuliner dan juga
travelling/lingkungan. Saat SNMPTN di buka, aku dengan pedenya mendaftar di
Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas
Jenderal Soedirman (Unsoed). Semuanya jurusan Ilmu Gizi. Sebab aku rasa itu
yang berhubungan dengan makanan.
Saat pengumuman, aku lolos seleksi SNMPTN tinggal
menunggu hasil aku bisa masuk ke salah satu universitas tersebut atau tidak. Sebulan
menunggu, dan hasilnya? HEHE. Aku tidak lolos.
Setelah pengumuman itu, aku terus belajar untuk SBMPTN. Aku
kembali berharap dapat lolos di jalur ini. Aku tetap memilih jurusan Ilmu Gizi
IPB dan Unsoed serta jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB. Namun,
ternyata Allah belum mengizinkan aku untuk lolos jalur tersebut.
Jujur, saat itu aku menangis. Aku bingung dan merasa
gagal sebab setelah sekian perjuangan, nyatanya aku masih belum bisa diterima. Yang
lebih menyesakan lagi, aku memikirkan kedua orang tuaku. Mereka menggantungkan
harapan kepadaku, sedangkan aku anak terakhirnya belum bisa mewujudkannya.
Kakakku yang berada di Depok akhirnya menyarankanku untuk
mendaftar di Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta. Untuk UI aku
sendiri pun mikir beratus-ratus kali. Akhirnya aku hanya mencoba mendaftar di
PNJ.
Jurusan yang aku ambil di PNJ ialah Jurnalistik,
Administrasi Bisnis, dan Manajemen Keuangan. Selain mendaftar di PNJ, aku pun
ikut UM Unsoed dan mengambil jurusan Ilmu Gizi, tentunya, dan Teknologi Pangan.
Selain daftar perguruan tinggi di atas, aku pun hampir mendaftar
di sekolah koki, tekstil, bahkan pertamina. Untungnya, sebelum hal itu terjadi,
Alhamdulillah PNJ menerimaku. Aku masuk di jurusan Jurnalistik.
Di samping itu, selang beberapa hari dari pengumuman PNJ,
hasil UM Unsoed pun keluar dan Alhamdulillah, aku diterima sebagai mahasiswa
Jurusan Teknologi Pangan. Aku bingung pilih yang mana. Setiap hari aku berdoa
meminta petunjuk Allah mana yang sebaiknya aku pilih.
Dari pribadi, aku lebih memilih Unsoed, namun orang tua
menyarankan aku untuk ambil PNJ. Aku tidak bisa berpikir lama, sebab PNJ harus
segera membayar biaya masuk. Maka dari itu, setelah nangis galau gelisah
berhari-hari, aku memutuskan untuk ambil Jurnalistik PNJ.
Aku tegaskan, tidak ada unsur terpaksa sedikit pun dalam
memilih jurusanku saat ini. Sebab, bagaimana pun aku sendiri yang memilih sendiri.
selain itu, toh salah satu cita-citaku jadi seorang penulis. Kurasa tak ada
salahnya masuk ke jurusan ini.
-----------------
Namun, akibat tweet
yang aku baca tadi, aku menjadi berpikir ulang. Apa benar aku mau menjadi
seorang Jurnalis? Apa aku sanggup bekerja di ruang lingkup media?
Untuk menulis atau
fotografi sendiri sebenarnya bukan sebuah masalah besar untukku, aku lebih
memikirkan tentang bagaimana aku wawancara seorang narasumber. Dengan sifatku
yang tidak suka banyak bicara dan kurang kritis ini, aku semakin merasa aku
tidak cocok di Jurnalistik.
Jurnalistik sendiri
pada dasarnya harus mempelajari dan paham akan segala hal, seperti politik, hukum, ekonomi, sastra,
sains, sosial, lingkungan, olahraga. Ia merupakan jurusan yang dinamis, dapat
berkembang, dan tidak akan mati. Sehingga, untuk menjadi jurnalis setidaknya memiliki
pemikiran yang terbuka dan berwawasan luas.
Bukannya aku tidak
berusaha untuk mengembangkan skill komunikasi dalam wawancara, aku bahkan
sampai mengikuti kegiatan volunteer
di media agar aku dapat memperlajari bagaimana bekerja agar nantinya aku terbiasa.
Tapi ternyata itu belum cukup, aku harus terus belajar dan belajar.
Saat ini, yang jadi
pertanyaan untukku, “Kalau udah lulus nanti mau jadi apa?”
Aku sempat terpikir
untuk kembali mendaftar sebagai mahasiswa baru dan memperjuangkan jurusan Ilmu
Gizi. Namun, menurut teman-temanku, tidak usah. Aku pun memikirkan orang tuaku.
Mereka akan terus membiayai sekolahku di mana yang seharusnya aku sudah dapat
menghasilkan penghasilan untuk mereka.
Akhirnya aku memikirkan
opsi lain, yaitu melanjutkan studi yang berhubungan dengan jurnalistik. Tapi nyatanya,
tidak banyak universitas yang memiliki jurusan jurnalistik. Pilihan lainnya, aku
harus melanjutkan dibidang sastra atau komunikasi.
Sampai saat ini, aku
belum memutuskan akan mengambil jurusan apa setelah ini. Semoga apa pun yang
nantinya aku pilih, Allah selalu memudahkan dan meridho setiap langkahku. Allah
tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Bahkan siswa yang hobinya tertidur di kelas
saja bisa menjadi seorang yang sukses di kemudian hari. Semoga aku yang masih
belum bisa memutuskan ini pun diberikan kesuksesan nantinya. Aamiin.

0 Komentar