Advertisement

Tolong, Jangan Paksa Aku

sumber: dmiprimagamatugumalang.blogspot.com


Kita sebagai manusia memiliki tujuan dan bakat yang berbeda. Ada yang suka menulis, melukis, membongkar mesin, mengotak-atik rumus matematika, melakukan eksperimen kimia, memasak, mempelajari ilmu lingkungan, menyelam, bertani, atau yang lainnya.

Bakat merupakan ciri khas dari setiap orang dan sudah ada sejak kita lahir.  Namun, bukan berarti kita tidak harus belajar. Tentunya akan lebih baik jika bakat tersebut dikembangkan dan digali lebih dalam. Sebab, bisa saja bakat yang kita miliki nantinya yang akan menjadi dasar dalam menentukan profesi kita.

Sejatinya setiap orang memiliki bakat-minat, kekurangan-kelebihan, pola pikir, proses pendewasaan yang berbeda. Namun, beberapa orang sering kali membandingkan antara satu orang dengan yang lainnya.

“Si X tulisannya bagus, kok kamu nggak? Padahal jurusannya sama.”

“Bukannya kamu di jurusan Y yang seharusnya banyak ngomong dan kritis. Kok kamu keliatan pendiem ya?”

“Kamu tuh udah umur segini, masih kaya anak kecil mulu. Apa-apa harus disuruh. Ambil keputusan masih lama. Liat tuh anak tetangga, seumuran kamu udah jadi MC seminar dimana aja, dipercaya jadi perwakilan kampus, punya banyak pengalaman.”

“Kamu tuh di jurusan Z, tapi gak keliatan jiwa-jiwa jurusan Znya. Beda sama temenmu itu, dari cara ngomongnya aja dia udah keliatan kalo bisa mempengaruhi orang.

Pernah mengalami hal seperti itu?

“Ya. Sering.”

Mbak/Mas/Bu/Pak/Tante/Om/Nenek/Kakek, aku tidak bisa menjadi sama seperti mereka. Aku adalah aku. Aku bukan mereka. Aku tidak bisa memiliki semua kemampuan yang sama dengan mereka. Aku tidak bisa menjadi sempurna. Aku punya kekurangan.

Aku tidak bisa menguasai keahlian dalam semua bidang -menulis, memasak, olahraga, kesenian, hukum, ekonomi, politik, kedokteran. Aku punya kelebihan, bakat, dan cita-cita sendiri. Jangan paksa aku untuk sama seperti mereka.

Mungkin aku bisa mempelajari semuanya, namun aku tidak dapat menjadi ahli disemua bidang. Aku hanya tau dan memahami, tapi bukan menjadi ahli. Pastinya akan berbeda dengan mereka yang pada dasarnya memiliki bakat dan keahlian di bidang tersebut. Tolong, jangan paksa aku untuk sama seperti mereka.

Logikanya seperti ini, jika semua orang menjadi ahli disemua bidang, mereka tidak perlu memeriksakan diri saat sakit ke dokter, tidak harus memanggil abang PLN saat listrik mati, tidak harus memanggil ahli bangunan saat hendak membangun rumah, tidak usah menyekolahkan anaknya. Bukankah semuanya bisa dilakukan seorang diri?

Sayangnya, hal itu sulit terjadi. Adanya kekurangan-kelebihan, bakat yang berbeda agar manusia satu sama lainnya dapat saling melengkapi. Kita diciptakan dengan porsi masing-masing. Bukankah dibangku SMP pun diajarkan, bahwasanya kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain? Pernah mendengar kan? Atau tidak? Mungkin saat dijelaskan kamu sedang bolos ke kantin, ya?

Setiap kali dibandingkan, tentunya aku tidak serta-merta menyalahkan pihak yang membandingkan. Aku sering kali berpikir. Apakah aku kurang menunjukan kemampuanku? Ataukah mereka yang tidak bisa menilai diriku? Tolong bantu jawab.

Tidak hanya dalam bakat, kemampuan, dalam sifat-sikap, hobi, kebiasaan pun sering kali aku mendapatkan perbandingan. Bukan dari kedua orang tuaku, tentunya. Mereka selalu mensupport apa pun yang aku lakukan, selama itu baik, dan menasihati serta menegur jika aku melakukan kesalahan.

Contohnya hobi. Aku termasuk anak yang senang menyendiri, menikmati kesunyian. Aku senang melakukan banyak hal sendirian. Aku tahan berlama-lama di dalam kamar walaupun hanya membaca buku atau menulis sesuatu. Aku juga akan senang jika di ajak ke toko buku, meskipun hanya melihat-lihat.

Aku bukan tipe orang yang senang berjalan-jalan di supermarket, nongkrong di kafe. Jika pun iya, seringnya ke supermarket hanya membeli benda yang dibutuhkan, lantas berkeliling sebentar. Aku tidak tahan berlama-lama berkeliling supermarket tanpa tujuan. Ya, aku tipikal anak yang cepat bosan, mungkin.

Berbeda lagi jika berjalan-jalan di alam, di tempat terbuka, aku akan senang menghabiskan waktuku di sana. Aku akan berteriak dan melepaskan segala beban yang ada. Aku akan duduk berdiam diri berjam-jam sambil menikmati keindahannya.

Nah, karena sifatku yang menyendiri ini, ada seseorang yang menyebutku “Autis”. Aku, yang cengeng ini, menahan air mata saat kata itu terucap olehnya. Aku sampai mencari tahu apa itu autis dan setelah mendapat hasilnya, aku menangis.

Di sana tertulis, autis ialah penderita autisme. Autisme sendiri ialah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu.

Coba bayangkan? Orang terdekatmu mengatakan hal seperti itu. Entahlah, mungkin ini memang salahku. Dia menginginkan aku banyak bercerita, ceria, tidak hanya berdiam diri di kamar.  

Tentu saja aku akan melakukan itu semua, tapi terkadang aku pun perlu waktu untuk diriku sendiri. –untuk aku menikmati hobi, menjadi diri sendiri, dan menengkan pikiran dan hati. Aku tidak selamanya jalan-jalan, cerita, atau ceria. Aku pun memiliki waktu untuk diriku sendiri. Tolong, jangan paksa aku untuk sama seperti mereka.

Hobi, bakat-minatku biar aku yang menentukan. Kalian cukup memberi saran, bukan memaksa. Aku tentu memiliki kekurangan dan juga kelebihan yang mungkin tidak kamu miliki. Jangan bandingankan aku dengannya, meskipun mungkin tujuanmu agar aku termotivasi untuk memiliki kelebihan seperti dia, namun menurutku akan lebih baik jika motivasimu itu kamu alihkan dengan menyemangatiku dalam mengembangkan bakat-minatku. Terima kasih.

Sekali lagi. Tolong, jangan paksa aku untuk sama seperti mereka.



Posting Komentar

2 Komentar

  1. Allah menciptakan kedua tangan.
    Ada dua fungsi, satu, tutup kedua telinga dengan tangan kita supaya gak denger omongan omongan kayak gitu.
    Dua, gunakan kedua tangan kita untuk menghantam mulut mereka yang berkata seperti itu

    BalasHapus
  2. Allah tidak mengajarkan kita melakukan kekerasan, gimana sih

    BalasHapus