Advertisement

Lagi-lagi Masalah Waktu

Sumber: Google


Hari ini kelasku mengadakan acara bincang-bincang dengan alumni. Acara ini merupakan ide dari dosen pembimbing akademikku. Awalnya aku kira acaranya hanya sekadar saling mengobrol biasa, tapi ternyata tidak. Dosenku menginginkan acara tersebut didokumentasikan dan dimasukkan ke akun youtube. Akhirnya perwakilan kelasku pada Jumat mengadakan rapat bersama dosen tersebut untuk mempersiapkan acara hari ini. Dari rapat tersebut kelasku harus mempersiapkan kamera, tripod, mic, dan hal lain yang diperlukan untuk mengambil video. Selain itu ada banner dan konsumsi juga.

Acara tersebut direncanakan akan berlangsung dari pukul 13.00-14.30 WIB. Oleh sebab itu, kelasku harus mulai beres-beres mempersiapkan semuanya paling tidak dari pukul 11.00. Namun, ternyata rencana yang telah disusun tidak sesuai dengan realitas. Jadi, pagi harinya aku ada mata kuliah. Biasanya dosen ini masuk pukul 09.00 WIB, namun hari ini beliau izin telat dan baru masuk pukul 10.00 WIB. Akibat jam masuknya telat, kelasku baru selesai pukul 12.00 WIB.

Dampak dari keterlambatan itu, dosen yang menginginkan adanya acara (Pak X) ini sedikit "marah" . Ia malah hendak membatalkan saja acara tersebut. Namun, kelasku tetap mempersiapkan segalanya dengan sedikit tergesa-gesa. Pukul 13.00 WIB semua persiapan telah selesai, menurut kami. Kemudian moderator yang tak lain dosenku juga (Pak Y), masuk. Ia melihat banner yang tertempel dan mengomentarinya. Katanya itu tidak terlihat rapi. Akhirnya teman-temanku mengatur ulang posisinya. Pak Y melihat ke arah belakang ruangan, ia juga mengomentari layar dan papan yang menghalangi cahaya. Hampir semua ia komentari dan harus ditata ulang oleh temanku.

Aku melihat beberapa temanku mulai mengeluh dan mengumpat di belakang. 
"Apa sih"
"ga jelas, *sensor*"
" *sensor* "
Ada juga yang mengkerutkan dahi.
Wkwkwk lucu sebenarnya melihat ekspresi mereka. Maaf ya teman tadi aku tidak membantu banyak, soalnya kalo masalah kamera/angle gitu aku gak terlalu ahli.


Persiapan baru selesai pukul 13.40 WIB. Acara pun langsung di mulai. Narasumber kali ini ialah lulusan Prodi Penerbitan/Jurnalistik tahun 2011. Kakak ini sudah mengambil S2 di Inggris dan rencananya akan kuliah kembali di Amerika. Meskipun lulusan jurnalistik, tetapi ia tidak menjadi jurnalis, melainkan berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris. 

Tema kali ini memang bertajuk "Mahasiswa Jurnalistik Tak Selalu jadi Jurnalis". Meskipun seperti itu, kata dia ilmu jurnalistik yang ia dapatkan semuanya terpakai di jurusan Sastra Inggris saat ia melanjutkan kuliah. Ia pun rajin menuliskan cerpen dan artikel yang beberapa dimuat di media dan dasar dalam penulisan tersebut ia dapatkan dari kuliah di penerbitan/jurnalistik. Memang pada dasarnya kakak itu juga suka menulis, sih.

Di acara bincang-bincang itu juga diceritakan bagaimana ia mendapatkan beasiswa, apa saja yang harus dipersiapkan untuk kuliah di luar negeri, bagaimana bersikap di sana, dan pengalaman-pengalaman lainnya.

Sebenarnya aku tidak akan menceritakan secara detail isi materi yang kakak itu sampaikan. Di sini aku ingin menceritakan proses, nasihat, dan pembelajaran dari ketidaktepatan waktu saat dimulainya acara.

Ya.. Lagi-lagi masalah waktu.
Hal ini memang menjadi problem yang penting dalam segala keadaan. 
Jadi, akibat kelasku yang terlambat mempersiapkan acara, Pak X "memarahi" kita. Otomatis hati, mulut, dan pikiranku langsung membela diri sendiri, "YA GIMANA YA PAK, ORANG ADA MATKUL."
Dan aku yakin (beberapa) teman-temanku yang lain pun berpikiran sama denganku.

"Kalian jangan salahkan dosennya, itu bukan salah beliau. Kalian seharusnya bisa bicara ke beliau kalau jam 1 ada acara. Kalian yang punya kontrol atas diri kalian masing-masing, jangan menyalahkan orang lain,"ujar Pak X.

Aku pun dalam hati masih membela diri sendiri. Dosenku itu tetap "memarahi" kami. Ia mengatakan jika kita sudah membuat janji dengan seseorang, jangan pernah melanggarnya, salah satunya dalam hal waktu tersebut.

Di dunia kerja, kuliah, di bidang apa pun, terutama jika nanti jadi jurnalis, masalah waktu ini jangan pernah dianggap sepele. Jika kita memiliki janji jam 9 dengan narasumber, usahakan 30 menit sebelumnya sudah ada di tempat. Kata dia bahkan kalau perlu berangkat setelah subuh (ok ini terlalu berlebihan sih kalo jarak menuju tempat janjiannya dekat). Kita harus memikirkan terlebih dahulu sanggup atau tidaknya jika hendak membuat jadwal. Jangan sampai keterlambatan kita membuat orang lain merasa dirugikan dan terbuang waktunya dengan sia-sia.

Ia juga menceritakan pernah bermasalah dengan salah satu temannya karena ia datang tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan. Makanya sampai sekarang ia selalu berusaha datang tepat waktu, bahkan ia menjuluki dirinya sendiri sebagai orang yang setia menunggu wkwk 

Katanya, orang yang bisa datang tepat waktu atau menepati janjinya akan mudah dipercaya orang. Orang tersebut banyak "terpakai" karena memiliki sikap yang menunjukan bahwa ia dapat bertanggung jawab akan janjinya.

Selain itu, dosenku juga memberikan nasihat mengenai pekerjaan. Dari awal persiapan yang ngaret dan tidak rapi itu, ia mengatakan pekerjaan sekecil apapun jangan dianggap sepele. Biasakan kerja yang rapi, teliti, dan bersih.

Ya walapun awalnya aku ikutan komat-kamit sendiri di belakang, namun hati kecilku akhirnya ikut menyetujui apa yang Pak X katakan. Memang benar, jangan pernah menyepelekan waktu dan jenis perkerjaan, sekecil apa pun itu.

Dari sini pula aku dapat belajar bahwa kita bisa memilih menentukan sikap atas segala hal. Contohnya, aku bisa saja terus menggerutu dan menolak segala perkataan dari bapak itu. Membela diri dengan menyalahkan orang lain dan menganggap si bapak tidak bisa memahami keadaan. Tapi, aku pun bisa memilih untuk tidak terlalu mengacuhkan "omelan" si bapak yang menyalahkan aku dan temanku. Aku bisa mengambil pelajaran, "Ya benar ini salah kita, jangan selalu menyalahkan keadaan dan orang lain. Sebab, kita sendiri yang memiliki kontrol akan diri kita. Mengontrol apa dan bagaimana yang harus kita lakukan."

Ya, kita memiliki kontrol akan diri kita.
 (Meskipun tidak semua hal bisa dikontrol, kita tidak akan tau pasti rencana Allah itu seperti apa. Sebab sebaik-baiknya rencana adalah rencana yang  Allah buat.)
Ambil yang baik, buang yang buruk.


Terima kasih ya, Pak. Benar kata bapak, kita sesekali emang harus "dimarahi" agar bisa belajar. Wkwk

Posting Komentar

0 Komentar