Sudah satu tahun berlalu sejak aku foto di acara toko online yang memiliki logo warna hijau ini. Awal tahun lalu aku isi dengan kegiatan magang dan liputan ke sana kemari.  Berangkat pagi,  pulang malam sudah jadi kebiasaanku dalam kurun waktu tiga bulan tersebut.  

Waktu itu,  aku sering mengeluh karena kelelahan.  Tapi sekarang aku justru merindukan kegiatan fisik di luar ruangan.  Berjalan menyusuri trotoar Ibukota, berkunjung ke tempat-tempat baru, hingga menjajal makanan di tempat liputan hahaha.  Ternyata, ada hal-hal yang baru disyukuri setelah kita merasakan kerinduan atau kehilangan, ya? 

Saat rindu tersebut, aku mencoba mengenang kembali masa-masa magang dalam pikiranku.  Ternyata,  setelah diingat kembali,  dulu aku terlalu emosional dan lebih banyak tidak bersyukurnya. Astagfirullah.  

Seperti diketahui,  aku magang menjadi seorang reporter.  Kegiatanku tidak jauh dari liputan, liputan, dan liputan.  Dalam sehari,  kalau sedang banyak agenda bahkan aku bisa datang ke dua hingga tiga tempat liputan.  Naik turun MRT,  KRL,  hingga ojek online rasanya sudah bukan hal aneh lagi.  

Meskipun hampir tiga tahun di Ibukota,  aku belum terlalu hafal daerah-daerahnya. Oleh sebab itu aku lebih sering naik ojek online. Selain alasan lebih cepat sampai,  aku pun tidak perlu kebingungan karena bisa langsung diantar sampai tujuan.  Aku pernah mencoba menaiki Transjakarta, tapi ujung-ujungnya malah salah naik dan menghabiskan waktu saja.  

Dengan sering menaiki ojek online membuat ongkosku terkuras. Bahkan, uang bulananku sering kali sudah habis di pertengahan.  Hal inilah salah satu penyebab aku sering mengeluh. Terkadang pernah terlintas,  "kenapa sih kantor tidak memberikan ongkos untuk liputan?". Padahal sudah jelas,  perjanjian awal disebutkan bahwa program magang ini tidak berbayar. Tapi dasar aku si pengeluh,  tidak melihat realita.  

Bahkan ya, aku sempat iri saat teman-temanku mendapatkan upah dari kantor tempat mereka magang. Astagfirullah. Membayangkannya terasa menyenangkan sekali bisa mendapat hasil dari kerja keras sendiri.  Padahal,  ternyata tidak semua nikmat itu berupa uang bukan? Nikmat itu bisa berupa kesehatan,  kemudahan dalam segala hal,  atau bahkan pengelaman.  



Saat liputan,  aku sering bertemu orang-orang baru yang menginspirasi dan memotivasi.  Dari mereka,  aku memahami sudut pandang lain dalam menjalani kehidupan.  Aku mendapatkan nilai-nilai kebaikan,  kerja keras,  dan perjuangan.  Hanya saat liputan pula aku bisa berjumpa secara langsung dengan tokoh-tokoh penting atau selebritas tanah air. Harusnya aku bersyukur.  

Aku pun berkunjung ke tempat-tempat baru.  Aku memasuki hotel-hotel mewah yang sebelumnya menginjakan kaki saja belum pernah,  masuk ke restoran-restoran bintang lima,  berkunjung ke tempat wisata, hingga tahu kafe yang interiornya lucu-lucu. Harusnya aku bersyukur. 



Aku juga diberi kesempatan mencicipi makanan enak,  mulai dari pinggir jalan hingga restoran bintang lima.  Mulai dari harga ribuan hingga ratus ribuan. Kapan lagi bukan aku makan nasi padang seharga Rp245.000 secara gratis kalau bukan lagi liputan?  Kapan lagi disuguhi makanan penuh gizi kalau bukan saat menghadiri konferensi pers?  Kapan lagi merasakan nikmatnya keik yang harganya tidak sekecil ukurannya? (Tapi jujur,  itu keiknya enak sekaliiiii. Keik yang rasanya mirip klepon terus di atasnya ada potongan nangka dan jeli.  Huhuhu aku mau lagi.) Yah,  harusnya aku banyak-banyak bersyukur. 



Terus, aku pernah mendapat kesempatan belajar membuat jamu.  Beneran itu asyik banget.  Aku juga  liputan ke acara yang intinya berusaha mengurangi sampah plastik gitu.  Di sana aku diajarin cara buat kantong yang bisa dipakai ulang.  Itu juga seruuu. Adalagi pengalaman berharga.  Aku diajak liputan ke pemilihan Puteri Indonesia.  Wow.  Aku bisa melihat secara langsung Miss Universe. Kapan lagi bukan bisa mendapatkan kesempatan seperti itu?

Dan, tak lupa pula berbagai bingkisan dan voucher yang aku bawa pulang selepas liputan. (Mungkin karena aku lebih ke gaya hidup,  jadi selalu ada aja tentengan yang dibawa pulang.) Hey,  seharusnya aku benar-benar bersyukur, bukan? Ah,  kenapa aku tidak menyadari hal ini sedari dulu,  sih.  Memang sudah terlambat, tapi apa salahnya mengucap syukur saat ini? Gak masalah 'kan?  

Aku akui,  dulu aku terlalu money oriented atau duit duit duit mulu.  Maklum,  keseringan megang duit di organisasi jadi kebawa deh.  Hehehe canda. Tapi sekarang aku sudah sadar.  Uang itu bukan segalanya,  kawan.  Sebab, sebuah pengalaman tidak bisa dibeli oleh uang.  Asikk.  

Ya pokoknya gitu deh.  

Jadi,  setelah sadar, aku belajar untuk tidak melihat dari segi materi terlebih dahulu.  Begitu pun dalam mencari pekerjaan saat ini. Aku mencoba mengambil segala hal yang menurut aku halal dan masih bisa dibilang wajar.  Aku tidak munafik,  aku juga pengin uang yang banyak.  Siapa sih yang tidak ingin uang banyak di tengah keadaan seperti saat ini? Realitis aja.  

Tapi, kalau kata sobat-sobat aku mah,  selagi ada kesempatan kenapa tidak diambil saja? Niatkan saja untuk belajar, menambah skill,  dan memperbanyak ilmu pengetahuan. Insyaallah uang atau jabatan sekali pun akan mengikuti sesuai usaha, doa, dan kerja keras kita.  

Yuk mulai coba melihat segala sesuatu dari sudut pandang lain!  Semangat semangat!