Advertisement

Perseteruan Antara Hati, Pikiran, dan Raga

Beberapa waktu terakhir aku merasa kesal, merutuki,  berseteru, bahkan sering menyalahkan diri sendiri. Aku merasa tidak akrab dengan diriku. 
Aku siapa?  
Mau apa?  
Aku tidak tau. 
Sulit rasanya untuk memahami diri sendiri. Padahal aku sudah hidup selama 18 tahun, tapi terkadang aku masih tidak mengenali diriku. Apakah mungkin di usiaku yang sudah tidak pantas dianggap remaja aku belum menemukan jati diriku?  
Entahlah, mungkin ini termasuk bentuk dari tidak mensyukuri hidup? Astagfirullah semoga saja tidak seperti itu. 
Seperti yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya, bahwa aku susah untuk berubah. Dari situ, aku merasa kesal dan selalu berdebat dengan diriku sendiri.  Hati dan pikiranku terkadang tidak sejalan, hati dan pikiran sudah sejalan, malah tubuhku sendiri yang enggan melakukan perubahan, atau ketika hati dan tubuh sejalan, eh malah pikiran yang bertentangan. 
"Males ah"
"Ntar aja"
"Gampang itu mah"
"Udahlah gak usah"
Kalimat-kalimat tersebut yang biasa ada dipikiran yang membuat diriku membatalkan kegiatan yang mendukung untuk berubah. 
Jujur, aku kesal. Sangat teramat kesal. 
Aku hanya takut aku mulai membenci diriku sendiri.

Aku mencoba mendiskusikan hal ini dengan sahabatku. Menurut dia, sebaiknya aku mengikuti kata hatiku. Selain itu, katanya aku harus mencoba untuk menggali dan memahami diriku. Hal itu bisa dilakukan dengan mulai untuk jujur dengan diri sendiri. Jangan memaksakan diri untuk membahagiakan orang lain padahal aku sendiri tidak merasakan bahagia. Intinya sih aku disuruh untuk tegas sama diriku.

Aku setuju dengan pendapat dia. Karena ternyata memahami diri sendiri itu lebih susah daripada memahami orang lain. Aku sering berusaha mencoba memahami, contohnya, perasaan temanku ketika dia sedang bercerita. Ya ya aku mengerti perasaannya, tapi ya sekadarnya, ya bisa dibilang hanya tau gimana kalau jadi dia, tanpa bisa memahami sepenuhnya. Kadang aku so so an ngertiin perasaan orang lain, padahal aku sendiri sering tidak mengetahui sebenernya mauku apa! Haha.

Untuk itu, mulai saat ini aku akan mencoba untuk mencintai, memahami, mengenali, membahagiakan, dan memikirkan diriku sendiri. 
Aku akan mencoba untuk jujur dengan diri sendiri. 
Aku akan mencoba untuk mengatakan "tidak" pada hal-hal yang tidak aku ingini dan sesuai dengan hatiku tanpa takut merasa tidak enak setelahnya. 
Aku akan mencoba untuk tegas. Menanyakan, memikirkan, dan memahami mauku seperti apa. 
Aku akan mencoba mulai mengikuti kata hatiku, mengikuti jalan yang aku yakini dan percaya akan hal itu. 



"Jika kita ingin dicintai oleh orang lain, mulailah dengan mencintai diri sendiri."
Ya! Aku akan mencobanya. 
Semoga tidak hanya "akan" namun benar-benar terlaksana.



Ditulis oleh Ayu yang sedang merasa asing dengan diri sendiri.


Depok, 30 Juli 2018

Posting Komentar

0 Komentar