Advertisement

Ann dan Sasa

Bolehlah kamu anggap tulisan ini lebay, alay, atau berlebihan. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bercerita. Jika tidak suka, tak usah kau lanjutkan membaca.

---

Namanya Anita, Anita Rahim. Dari awal kenalan aku tau orang biasa memanggilnya Anita, Nit, atau Ta. Namun, suatu hari salah satu temanku memiliki nama panggilan khusus untuknya, Ant. Entahlah dia mendapatkan inspirasi itu dari mana hahaha. Aku juga mulai memanggilnya Ant, tapi lama-kelamaan aku lebih suka menuliskannya, Ann. Ya sebut saja dia Ann. 
Aku ingat pertama kali dia menyapaku, saat itu semua mahasiswa baru sedang dikumpulkan depan gedung jurusanku. Aku baris bersebelahan dengan dia, awalnya aku juga tidak menyadari bahwa aku dan dia berada di kelas yang sama. Dia bilang kepadaku saat aku berbasa-basi menanyakan tentangnya, "Lah kita kan sekelas, gimana sih kamu." Jujur aja, aku memang belum terlalu memperhatikan orang-orang yang sekelas denganku. 
Dia Ann. Teman paling semangat, ambisius, banyak tanya, tukang nyapa orang kalo lagi jalan, dan sedikit baperan. 
Dia hobi ketemu orang, aku hobi baca buku. Dia suka belajar sambil ngobrol, aku bisa belajar dalam suasana tenang. Dia senang praktik, aku lebih mudah menguasai teori tapi bukan berarti tidak senang praktik. Dia aktivis, aku apatis yang tahun ini menyusul dia jadi aktivis. Dia minum jus alpukat udah kenyang, aku makan soto pake nasi minum jus alpukat baru kenyang. 
Dia Ann, yang selalu menyemangatiku, "Kamu tuh punya kemampuan, punya bakat, kenapa selalu gak percaya diri buat nyoba, sih?"


--

Namanya Nurnafisah, orang biasa memanggilnya Aca. Namun, di sini aku akan menuliskan namanya, Sasa. Gak masalah kan, ca? Hehe
Dia Sasa, teman seperbucinanku. Muka imut, mungil, suara merdu, kacamata menjadi beberapa cirinya.
Dia Sasa, rajin, rapi, kreatif, jujur, dan mau berusaha.
Dia Sasa, seorang gadis yang suka bercerita, apa pun ia ceritakan, kucing, kelucuan keluarganya, kesehariannya, hingga masalah percintaannya. 
Dia Sasa, yang memiliki kucing bernama Uning, namun aku selalu saja salah memanggilnya dengan sebutan Oneng. 
Dia seorang anak yang pertama kali melihatnya "Ini kalem banget ya bocah" namun setelah mengenal lebih jauh "Ni anak ngelawak mulu yaa". Jika ingin awet muda, dekat-dekatlah dengan dia hahaha
Hobi dia nulis, hobiku baca. Dia cuek, aku bodoamatan. Dia peka terhadap sekitar, aku kebalikannya. Dia suka merhatiin tingkah dan sikap orang dan selalu ngerti kondisi di sekitar, aku udah nyoba merhatiin masih aja ga ngerti. Dia pendiam namun diam-diam banyak pengalaman, aku pendiam tapi diam diam harus terus belajar biar punya banyak pengalaman kaya dia. Dia suaranya merdu, aku (nggak) juga. Dia gak mahir ngomong di depan banyak orang tapi doyan cerita, aku udah gak berani ngomong depan orang banyak, ga suka juga cerita-cerita. Dia pencinta pedas, aku penggemar kecap. Dia selebgram, aku seleb-ihnya monmaaf (apasih wkwk).
Dia Sasa, yang pernah menasihatiku "Kenali diri kamu dulu, dengan cara ikutin kata hati kamu, Yu. Kadang kita sering banget ngertiin orang lain, padahal diri sendiri aja ga tau mau kita itu apa. Kalo gak suka sama suatu hal jangan diikuti, jangan ngikutin kata orang. Jangan biasain ngebohongin diri sendiri."

---


Tadinya, aku sangat merasa asing dengan kehidupan di kampus. Setiap hari yang kulakukan di kelas hanya membaca komik detektif conan, mendengarkan musik, atau tiduran. Aku mencoba bergabung dengan anak-anak yang sedang berkumpul, namun waktu itu aku belum menemukan kecocokan dan kenyamanan. Aku masih merasa seperti diasingkan. Entahlah, mungkin karena mimik mukaku yang jutek ini, orang jadi malas berkenalan denganku. Sebagai anak rantau yang tidak memiliki satu kenalan pun, aku terlihat sangat menyedihkan. Di daerah yang baru aku kunjungi, aku kesulitan untuk beradaptasi. Memang sih, waktu itu aku sudah memiliki dua orang teman yang awalnya satu gugus denganku. Namun, mereka sering keluar kelas, dan aku malas juga jika harus bolak-balik mulu. Inilah yang disebut membatasi diri. Ya, aku tau, aku payah dalam hal sosialisasi.
Seminggu berlalu, aku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, membaca komik, mendengarkan musik, dan tiduran. Aku bosan, sungguh bosan, teramat bosan. Lagi-lagi aku membenamkan kepalaku dikursi. Beberapa menit kepala ku tengokan kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan... Aku bosan. Aku melihat-lihat sekitar. Kemudian, Ann mengajak duduk dilantai untuk berbincang. Mungkin inilah awal aku berteman baik dengan Ann dan Sasa. 
Aku duduk di depan Ann, kemudian Sasa menyusul duduk di sebelahku. Kami bertiga duduk membentuk lingkaran. 
Ann mencoba basa-basi menyuruh kita untuk saling menceritakan tentang SMA dan perjuangan masuk kuliah. Ann dan Sasa menceritakan kehidupan mereka. Aku sedikit-sedikit mengetahui tentang kisah mereka. Ketika giliranku bercerita, aku hanya bisa bercerita sedikit, itu pun dengan bahasa yang berbelit-belit dan sedikit tidak jelas. (Dulu kalian paham tak apa yang aku ceritain? Hehe). Aku memang tidak pandai bercerita dan ceritaku tidak terlalu menarik untuk didengarkan hehe. 
Kami terus bercerita, topik yang aku ingat ialah ketika Ann meminta pendapat kami tentang "Ganteng itu apa?" Hahaha emang sedikit tidak berfaedah sih bahasannya. 
Dari situ aku mulai mengenal bahwa Ann itu tipe-tipe anak yang menyukai sastra, terbukti dengan cara ia berbicara menggunakan bahasa yang tinggi. Sedangkan Sasa, aku tau dia suka menulis tapi untuk membaca dia tidak terlalu menyukai buku-buku yang tebal. 
Sejak hari itu, aku sering pergi kemana-mana bersama mereka. 
Ann yang mengajarkanku untuk berani mengatakan "tidak". Yang membantu menumbuhkan semangat. Yang mengajakku untuk berubah. Yang mengomporiku untuk melakukan lebih dari yang biasanya. Yang meneriakiku "Kamu pasti bisa!" 
Sasa yang mengingatkanku untuk peka terhadap sekitar. Yang menyadarkanku untuk memperhatikan gesture seseorang. Yang membuatku termotivasi untuk lebih rajin dari dia. Yang membuatku semakin sadar bahwa hidup harus seimbang antara dunia dan akhirat.  Yang selalu mengajakku untuk berburu pengalaman "Ayo coba dulu, Yu, lumayan buat pengalaman."


----

Gak kerasa, ya, udah hampir setahun kita temenan? Hehe 
Nyatanya setahun itu tidak semuanya berjalan mulus dan diisi hahahihi.
Terkadang terjadi perselisihan, perbedaan pendapat. Pernah pula hadir rasa canggung di antara kita. Sering juga saling kesal. Mengabaikan satu sama lain. Namun, pada akhirnya akan kembali lagi seperti sedia kala, karena kalau kata Ann, kita pernah saling membuat bahagia, masa hanya karena masalah kecil kita saling berjauhan.


Dia Ann dan Sasa, dan aku sangat bangga menjadi salah satu temannya.

"Jika engkau mempunyai teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah engkau melepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tapi melepaskannya mudah sekali."

Posting Komentar

0 Komentar