Advertisement

Aku dan Kenangan Si Cokelat Choki-choki

Sumber: Pinterest
Tulisan ini kubuat untuk mengenangmu
Laki-laki berseragam cokelat di masa putih abu

Aku menyukaimu,
Dahulu.
Memang, tidak ada yang tahu
Hanya kusimpan namamu dalam benakku.

Ya, kamu
Yang kuberi inisial si choki-choki
Diam-diam telah mengisi hati 
Dan kemudian pergi
Sebelum kumiliki.

Aku masih teringat kala hujan turun dan kita berjalan beriringan dalam diam
Saat kita duduk berkelompok mendiskusikan karya
Saat kau memberikan segelas wedang jahe hangat 
Di saat kita hanya duduk dan saling diam bingung membahas apa
Dan yang paling kuingat, saat kaumeyodorkan sebungkus choki-choki di depan kelas.

Tiga tahun berada di ruangan yang sama, tidak membuat kau dan aku terlihat seperti seseorang yang saling berteman
Aku yang terlalu pemalu atau kau yang terlalu kaku?
Selama tiga tahun itu pun baru di ujung semester kita saling berkomunikasi melalui media sosial. 
Aku yang terlalu pemalu atau kau yang terlalu kaku?

Namun, nyatanya rasa sukaku lagi-lagi hanya bisa terpendam, sama seperti biasanya.

Di pesta perayaan kelulusan, aku melihatmu. 
Aku yang sudah mempersiapkan diri untuk menghampirimu
Ingin mengabadikan momen bersamamu dalam selembar foto
Tapi, harapan untuk berfoto dan rasa sukaku terhadapmu seketika pupus saat kulihat seorang wanita, yang selama ini digosipkan denganmu, berada di sampingmu.
Menggandeng lenganmu. 

Entahlah, itu hanya sebatas gandengan tangan dari seorang sahabat atau bahkan lebih dari itu. 

Ah, sudahlah. 
Itu hanya kisah lama.
Kini, aku sudah sedikit tidak terlalu banyak memikirkannya.
Hariku sibuk,
atau lebih tepatnya menyibukan diri.

Itu hanya cerita setahun yang lalu
Saat aku memendam sebuah perasaan sendirian
Tersenyum-senyum sendirian
Kecewa sendirian
Tersakiti sendirian
Dan melupakan sendirian.

Aku belajar dari hal itu,
Dua kali tumbuh benih asmara di masa SMA
Dua kali aku ditunjukan bahwa sang idaman sudah memiliki gandengan
Dua kali pula aku dikecewakan dan tersadar
Allah nyatanya selalu ada dan memperhatikanku
Ia tak ingin aku jatuh cinta dan terlalu berharap kepada yang bukan ditakdirkan untukku

Kini, aku selalu berhati-hati menjaga hati
Menghindari diri dari rayuan lelaki
Menjaga hati agar tidak mudah berharap kembali
Dan
Untuk saat ini
Aku sedikit menutup hati
Jangan mendekat, 
atau aku akan menyakiti, dan tersakiti.




Posting Komentar

0 Komentar