Sejak aku masuk organisasi, aku sadar ternyata masih banyak orang menyepelakan waktu. Termasuk aku sendiri.
Sebagai contoh, dijadwalkan rapat pukul 10.00, nyatanya baru mulai pukul 13.00. Ya. Tiga jam waktu terbuang sia-sia.
Mungkin jam karet ini sudah menjadi ciri khas dari bangsa kita. Berupa kebiasaan yang akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.
Istilah jam karet sendiri mengacu kepada seseorang yang datang di suatu acara tidak pada jam yang telah ditentukan.
Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal. Seperti, ia pernah datang tepat waktu namun harus menunggu lama sebab yang lain belum datang. Hingga akhirnya ia berpikiran, "Ah ngapain gua datang lebih awal, pasti yang lainnya juga bakalan telat."
Sehingga akhirnya orang-orang tersebut akan saling tunggu-menunggu yang menyebabkan acaranya tidak berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Nah, seharusnya pola pikir tersebut diubah. Jika semua orang memikirkan hal seperti itu, jam karet akan terus berkembang.
Bagaimana mau sukses jika masalah datang tepat waktu aja masih belum bisa diterapkan?
Selain itu, penyebab orang telat bisa juga dikarenakan hal-hal tak terduga, seperti kereta bermasalah, ban bocor, atau kecelakaan. Tentunya ini diluar kuasa manusia. Bukan suatu hal yang sudah direncanakan.
Berhubungan dengan tunggu-menunggu ini, aku punya sedikit cerita . Sore itu, aku menghadiri suatu rapat yang dijadwalkan pukul 14.00, namun sampai pukul 15.00 yang datang hanya sepuluh orang dari 50. Hebat bukan?
Di sela-sela waktu menunggu tersebut, aku berbincang dengan temanku. Dia bertanya, "Kamu lebih milih nunggu atau ditunggu?"
Saat itu, aku tidak berpikiran panjang. Aku jawab aja sekenanya, "Lebih baik nunggu". Alasanku menjawab itu sebab pikiran pendekku mengatakan daripada merugikan waktu orang lain yang nunggu aku, mending aku yang rugiin waktu aku sendiri. Seenggaknya aku jadi ga ngezalimi orang lain. Dalam waktu nunggu itu aku kan bisa ngerjain kegiatan produktif lainnya, pikirku.
Namun, pertanyaan temanku tiba-tiba muncul kembali saat aku hendak tidur.
"Menunggu atau ditunggu?"
Aku kembali memikirkan jawabanku, "Masa iya ngerelaiin waktu gua terbuang sia-sia? Ngelakuin hal produktif sambil nunggu? Hahahaha nyatanya ga kaya gitu tuh, gua malah lebih sering ketawa ketiwi ga jelas. Emang bener gua lebih milih nunggu? Ah engga deh kayanya. Rugi."
Aku terus berpikir, hingga akhirnya aku punya pemikiran baru.
Kenapa setiap orang ga ngubah pola pikirnya aja ya. Daripada milih nunggu atau ditunggu, kenapa ga sama-sama datang tepat waktu. Sehingga gak ada waktu orang yang terbuang sia-sia. Gak ada orang yang ngeluh cape nunggu. Gak ada orang yang kesel dan ngedumel sendiri. Gak ada orang yang buru-buru dateng karena ngerasa udah telat. Gak ada orang yang merasa bersalah karena udah bikin nunggu.
Bisa bikin orang lebih bisa menghargai waktu. Bisa bikin orang lebih displin. Bisa bikin orang memanajemen waktu lebih bijak.
Kenapa harus milih nunggu atau ditunggu, jika datang tepat waktu adalah solusi terbaik?
0 Komentar