Saat
hujan kemarin sore, aku berbincang
dengan Ibu.
“Minggu mau ke
mana,Bu? Kalo gak kemana-mana main, Yuk!”
tanyaku.
“Besok
mau ke kebun, mau manja kacang tanah.
Ikut aja ke kebun.” (Manja adalah bahasa
daerahku (Cimanggu) yang berarti menanam benih)
Alhasil
Minggu pagi tanpa sarapan terlebih dahulu aku dan Ibu berangkat ke kebun. Lokasinya
tidak terlalu jauh, mungkin hanya berjarak 200 meter dari rumah. Aku tinggal
menyebrang jalan dan kebunku sudah terlihat.
Sambil
Ibuku mempersiapkan benih kacang tanah yang akan di tanam, aku makan pisang
goreng terlebih dahulu. Aku suka sekali, sangat suka pisang goreng. Dari semenjak
pulang kampung, aku sering kali meminta ibu untuk menggorengkan pisang, namun
katanya pisangnya belum ada yang matang.
Hingga
tadi pagi, kakakku mengantarkan pisang goreng, katanya pisang yang ditanamnya sudah
matang. Akhirnya aku bisa menikmati pisang goreng tersebut. Soalnya kalau di
Depok jarang banget yang jual, di abang-abang gorengan juga gak pernah liat. Sekalinya
ada pun, pisangnya bukan yang biasa aku makan di kampung. Makanya seneng banget
kalau pulang kampung dan digorengin pisang.
Di
kebunku ini, tumbuh berbagai macam tanaman, di antaranya kacang tanah, pisang,
singkong, rempah-rempah (daun salam, sereh, langkuas, kunyit, kencur), ubi, dan
papaya. Hidup di desa tuh emang enak, apa pun bisa ditanam. Bahkan batang kayu
singkong aja kalau ditanam bisa tumbuh kan? Bersyukurlah kita yang hidup di
Indonesia.
Selain
bersama Ibu, tetanggaku pun ikut membantu, namanya Bu Angga. Di kampungku
terbiasa memanggil seorang Ibu dengan nama anaknya. Bu Angga mulai membuat
lubang untuk menanam benih kacang tanah. Lubangnya dibuat menggunakan batang
kayu yang ujungnya sudah dilancipkan. Lalu batang kayu tersebut
ditancap-tancapkan ke tanah.
Aku
dan ibuku mengikuti langkah Bu Angga ini dengan posisi membungkuk sambil
memasukan kacang tanah. Kebun keluarga memang tidak terlalu luas, namun bagiku
yang sudah lama tidak ke kebun dan juga olahraga, rasanya lama banget. Dikit-dikit
jongkok, dikit-dikit jongkok. Padahal ibuku gesit banget, tangannya bergerak
cepat memasukan biji-biji kacang tanah ke lubang. Aku sudah mencoba mendahului,
namun tetap saja ibuku bisa menyusul. Sebagai anak muda aku ngerasa lemah
banget yaAllah wkwkwk
Baru
setengah luas kebun, tiba-tiba kepalaku pusing. Mungkin efek belum sarapan tapi
tubuh langsung diajak untuk bekerja. Maklum, aku anak Indonesia banget. Belum makan
aja langsung keleyengan. Kalau sarapan pakai roti aja nyampe kampus udah laper
lagi wkwkwk pokoknya belum makan nasi mah belum bisa diitung makan. Duhh..
Setelah
semua lahan sudah ditanami, kami istirahat terlebih dahulu. Aku, Ibu, dan Bu
Angga membuka bekal yang tadi pagi ibu bawa. Memang tidak seberapa, hanya nasi,
tahu balado, lele goreng, daun singkong rebus, dan sambel. Kami makan dibawah
pohon pisang. Sederhana tapi nikmat.
Makan
bersama di kebun atau sawah memang menjadi rutinitas warga sini. Apalagi kalau
sehabis panen. Rasa kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan memang masih
melekat. Meskipun aku bukan orang kota yang lahir dan tumbuh dikelilingi
orang-orang berjas dan berdasi, tapi aku bangga tumbuh di lingkungan pedesaan yang
mengajarkan akan kesederhanaan dan hidup prihatin.
Membahas
hidup prihatin, ibuku pernah bercerita. Dulu jika ia ingin makan ayam goreng,
ia harus mengejar-ngejar ayam terlebih dahulu, menangkapnya, memotong, membersihkan,
memasak, baru bisa memakannya. Kalau ingin makan tempe goreng, harus mengolah
kedelainya terlebih dahulu sampai bisa berbentuk tempe.
Ibuku
hidup berdampingan dengan alam dan lingkungan sekitar. Ingin makan ayam,
tinggal tangkap. Ingin telur goreng, ambil di kandang. Ingin ikan, ambil di
kolam. Ingin makan sayur, ambil di kebun. Ingin buah-buahan, ambil di ladang. Zaman
dulu kata ibu mereka makan apa yang ditanam dan dirawatnya.
Untuk
memasak pun mereka harus mencari kayu bakar ke kebun dulu. Tidak seperti
sekarang yang hanya tinggal memutarkan tombol. Orang zaman dulu tuh kalau ingin
apa pun harus usaha dahulu. Bahkan pernah sampai nangis karena lapar ingin
makan tapi gak ada makanan. Tapi kok sekarang malah kebalikannya gitu, orang
nangis karena disuruh-suruh buat makan.
Hidup
zaman sekarang kata ibu tuh gampang. Kita tidak harus jalan berpuluh kilometer
untuk mendapatkan makanan yang diinginkan. Bakso pun saat dulu masih merupakan
makanan yang spesial. Kita tidak harus pula berhadapan dengan tungku panas
dengan asap yang mengepul untuk menikmati semangkuk sup ayam, misalnya.
Ibaratnya
hanya tinggal mangap saja. Tapi sering kali kita masih aja susah buat makan. Makan
disisa-sisakan. Makan pilih-pilih. Kata ibu, dulu mah boro-boro bisa milih
makanan, ada makanan aja udah bersyukur. Mereka makan apa yang ada dihadapan
mereka, entah itu hanya ikan asin dengan sambal atau daun singkong saja.
Itu
juga tamparan banget sih buat aku, soalnya aku termasuk orang yang susah makan
hehe maksudnya aku makan kalau memang udah lapar saja, kecuali sarapan, itu
tidak aku lewatkan.
Makan
pun selesai dan kami membereskan sisa-sisa makanan. Setelah beres, langsung
lanjut bekerja. Setelah semua ditanam, tinggal menaburkan pupuk dan menutup
lubang-lubangnya. Semua telah selesai, barang-barang dibereskan kembali.
Sebelum
pulang, ibu mengambil pisang dan jantungnya. Bu Angga mencari dan mengumpulkan
kayu bakar. Aku? Duduk kelelahan. YaAllah padahal gerakan aku gak sebanyak ibu
dan Bu Angga, tapi ngerasanya capek banget. Dasar aku. Lemah. Wkwk
Berkebun
itu ternyata gak gampang, ya. Butuh tenaga juga. Makanya, sebisa mungkin jangan
pernah ya memandang sebelah mata profesi apa pun. Kalian bisa makan nasi,
sayur, buah ya karena ada petani.
Memang
sih mereka kalau abis bekerja suka mengeluarkan aroma yang kurang enak. Tapi ya
bagaimana, kerja di bawah terik matahari, gerak sana sini ya jelas mengeluarkan
keringet. Lu aja yang di ruangan ber-AC kalau keringetan bau kan, maklumi lah.
Kalau
lu udah di “atas”, punya pekerjaan yang menurut lu keren, ya bersyukur. Tapi jangan
pernah menganggap rendah profesi lain. Semua pekerjaan sama baiknya, sama
pentingnya, sama mulianya jika dikerjakan dengan hati yang tulus dan jiwa yang
jujur.
Yuk,
main ke rumahku. Nanti aku ajak berkebun!


1 Komentar
Mau ikut berkebun dong:(
BalasHapus