Advertisement

Si Pemaaf yang Menyebalkan

Aku kehabisan ide buat nulis, tapi pengen nulis. "Tulis saja tentangku."
Harus ya kutulis tentangmu?
"Ya, sekali saja."
Tentang apa?
"Apa saja yang berhubungan denganku."
Baiklah.

Padahal sebelumnya aku pun pernah menulis tentangmu. Sepertinya kamu tidak menyadarinya.
Oke, tak mengapa. Kamu bisa mencari dan menerka tulisan yang mananya setelah kamu membaca ini.
Kalau masih belum bisa mengira-ngira, maaf, jangan harap aku akan memberi tahunya.
Aku senang membuat orang lain penasaran. Haha.

Kamu adalah salah satu orang mengesalkan yang pernah kutemui. Kamu juga orang yang keras kepala. Harus kuakui, aku pun sama sepertimu.

Aku bertemu denganmu pertama kali saat kumpul disebuah (anggap saja) komunitas. Berada dalam satu komunitas tidak membuat aku denganmu terlihat akrab. Aku memang baru satu kali gabung dengan komunitas tersebut. Berbeda dengan kamu yang sudah bebebapa kali mengikuti pertemuan. Sehingga aku yang pendiam ini hanya bisa mengamati dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Aku lihat kamu sudah memiliki beberapa teman, berbeda denganku yang selalu sendirian.

Suatu hari, aku mendapat kabar bahwa kamu keluar dari komunitas tersebut. Aku dan yang lain tidak tahu alasan pastinya itu apa, bahkan sampai saat ini pun masih sama. Aku merasa ada hal yang kamu tutupi dibalik alasan keluarnya kamu dari sana.

Ternyata, akhirnya aku pun mengikuti jejakmu untuk berhenti dari komunitas. Bukan karena aku tidak sanggup atau tidak nyaman berada di dalamnya. Tapi, memang ada beberapa alasan yang mendasarinya dan maaf aku tidak bisa menyebutkannya di sini.

Setelah keluar dari komunitas itu, kita malah saling mengenal. Beberapa kali bertemu di suatu acara kita saling menyapa dan berbincang. Kita pun sering saling membalas instastory dengan menghujat, meledek, dan mentertawakan.

Kamu memang mengesalkan. Sangat teramat mengesalkan.
Tapi aku tidak mengerti, mengapa aku yang mengesalkan dan keras kepala ini bisa berteman dekat denganmu yang memiliki sifat yang sama.
Beberapa kali kita berdebat dan akhirnya kamu selalu mengalah.
Kamu pun sering menggunakan kalimat "cewek selalu benar". huh.
Padahal aku sebagai seorang cewek ingin sekali rasanya diajak berdebat. Aku ingin mengasah kemampuan beropiniku.
Lain kali jangan selalu mengalah dan hanya meng-iya-kan perkataanku, ya. Ajak diskusi, aku pun  sesekali ingin didengarkan pendapatnya, walaupun mungkin tidak ada gunanya.

Kamu juga termasuk orang yang sabar menghadapi sifat kekanakanku. Sering kali aku marah, jutek, dan mendiamkanmu. Tapi kamu tak pernah menjauhiku. Kamu selalu memberikan kesempatan kepadaku untuk sendiri dan menenangkan hati.
"Gapapa kalo lu mau sendiri dulu, gue ngerti. Tapi jangan lama-lama."
Hahaha.
Kadang lucu kalo kamu bicara seperti itu.

Sekian lama mengenal dekat lewat chattingan, banyak kesamaan sifat dan kesukaan antara aku denganmu. Suka film action, naik gunung, petualangan, gak suka berenang, gak suka kegelapan, gak suka durian. Ya banyak juga sih perbedaan yang membuat kita sering saling mengejek, contohnya aku suka makanan manis, kamu sangat suka pedas.

Meskipun saat ini kita berdua terlihat berteman dekat di dunia maya, nyatanya jika bertemu langsung selalu saja canggung. Seperti orang asing.
Sebenarnya aku saja sih yang seperti itu. Kamu sendiri malah terlihat biasa saja. Tersenyum seperti dulu saat kita belum dekat. Memang akunya yang lebay sih haha.

Tapi belakangan ini aku sering kali merasa tak enak denganmu. Keras kepala, egois, dan kekanakanku malah semakin menjadi. Aku makin sering ngejutekin, ngediemin, nyakitin.
Benar, 'kan? Kamu juga ngerasain, 'kan?

Hmmm.. Maaf ya.
Rasanya mau minta maaf juga tidak enak, soalnya terlalu sering melakukan, minta maaf lagi, ngulangin lagi. Pasti kamu juga ngerasa basi kan mendengar kata maaf dariku?
Tapi tak apalah, setidaknya aku minta maaf, ya?

Terima kasih ya, kamu masih mau menjadi temanku, seburuk apa pun perangaianku.
Semoga pertemanan kita tidak seperti pertemananku yang sebelum-sebelumnya, ya. Yang mana kalau sudah beda almamater, beda jalur hidup saling melupakan hehehe





Posting Komentar

2 Komentar