Advertisement

Cerita Tentang Ketupat


Janur kuning menumpuk di depan rumah. Bapak dan Ibu-ibu berkumpul mengelilinginya. Kali ini bukan pertanda akan adanya dua insan yang saling mengukuhkan cinta, melainkan akan hadirnya hari kemenangan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Ketupat sering kali identik dengan hadirnya hari Raya Idulfitri. Tidak harus ada, tapi akan terasa kurang jika kehadirannya tidak ada. Dipadukan dengan opor ayam, maka akan semakin terasa suasana Lebarannya.
Ketupat sendiri merupakan makanan yang berasal dari beras yang dimasukan ke dalam anyaman pucuk kelapa (janur) atau bisa pula ke dalam plastik, kemudian direbus dan di makan sebagai pengganti nasi.

Membuat ketupat yang berasal dari janur itu gampang-gampang susah. Selain dibutuhkan keterampilan, perlu juga adanya kesabaran. Sebab, berulang kali aku mencoba membuatnya, semuanya berujung tidak sesuai harapan. Meskipun  prosesnya sama dengan orang menganyam, yaitu menyelang-nyelingkan janur, selalu saja mengalami kebingungan arah menentukan alurnya.

Keterampilan membuat anyaman untuk ketupat lama-lama semakin berkurang. Hanya segelintir orang saja yang masih menguasainya, di antaranya yaitu Bapak dan Ibuku. Sejak kecil mereka telah diajarkan bagaimana proses untuk membuat ketupat. Bahkan, menurut cerita Ibu, saat Sekolah Dasar (SD), ia diberi tugas oleh gurunya. Semalaman Ibu belajar kepada nenek cara membuatnya. Sebelum ketupat janur itu jadi, Ibu tidak berhenti mencoba.

Karena kebisaan Bapak dan Ibu ini, sering kali tetangga meminta bantuan untuk dibuatkan ketupat janur. Seperti waktu menjelang Lebaran itu, tetangga berkumpul di depan rumah mengerumungi janur. Bapak dan Ibu mempraktikan cara pembuatan ketupat janur. Kemudian tetangga memperhatikan dan mengikuti pergerakan tangan kedua orang tuaku. Ada yang berhasil dan ada pula yang menyudahi proses sebelum selesai.

"Susah ya, dari dulu saya belajar belum bisa juga,"keluh salah seorang tetangga.

Aku yang saat itu sedang libur Lebaran turut serta belajar membuat ketupat janur. Aku pun sama seperti tetanggaku, mengakui susahnya membuat ketupat janur tersebut. Saat hampir terbentuk, lagi-lagi aku tidak berhasil membuat ketupat tersebut tampak menawan. Bapak kemudian mengambil pekerjaanku yang setengah jadi itu dan meneruskannya.

"Ilmu itu penting, Yu. Apa pun ilmunya harus kamu pelajari," ucap Bapak secara tiba-tiba.

Aku yang belum mengerti arah pembicaraan hanya menengok dan menunggu Bapak melanjutkan ucapannya.

"Contohnya bikin ketupat. Ini hal sepele, tapi kamu tidak bisa, 'kan? Harusnya walaupun ini hanya sekadar ketupat dan bisa beli di pasar atau tempat lainnya, kamu seharusnya bisa belajar membuatnya."

Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan Bapak.

"Sehebat apa pun karier kamu, setinggi apa pun jabatan kamu nantinya, hal-hal kecil itu tidak boleh kamu anggap sepele. Terkadang dari hal-hal kecil ini kamu bisa belajar," ucapnyaa, "ya siapa tahu nanti kalau sudah menikah mertua kamu bisa tambah sayang kalo tahu menantunya jago bikin ketupat hahaha,"lanjut Bapak sambil tertawa.

Aku hanya tersenyum menanggapi kelakar dan  nasihat Bapak. Sambil terus mencoba membuat ketupat, aku memikirkan banyak hal.

Kedua orang tuaku memang terlahir dari keluarga yang sederhana. Saat aku pulang kampung, selalu saja ada cerita tentang perjuangan mereka melewati masa-masa sulit. Mulai dari berangkat sekolah yang harus jalan berpuluh kilometer, melewati hutan dan sungai, hingga cerita mereka tentang susahnya untuk makan.

"Dulu Ibu tuh nangis karena ingin makan, tapi lihat anak sekarang kok kayaknya nangis karena disuruh makan, ya,"ujar Ibu suatu ketika.

Aku yang hidup di zaman yang serba tercukupi ini sering kali merasa malu dengan Bapak dan Ibu. Mereka berjuang mati-matian untuk dapat hidup layak, aku yang sudah hidup enak sering kali mengeluhkan keadaan.

Aku kembali sibuk dengan janur dan semakin termotivasi untuk bisa membuat ketupat tersebut. Tentu bukan karena iming-iming "disayang mertua", tapi lebih kepada mencoba ilmu baru. Benar kata Bapak, jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil.

Meskipun akhirnya aku hanya berhasil membuat dua buah ketupat janur (kalah dengan Bapak dan Ibu yang hampir mencapai 100 buah), rasanya ada kepuasan tersendiri untukku.

Meskipun liburanku hanya menghabiskan waktu di rumah, aku mendapat banyak pembelajaran. Liburan tidak harus selalu berkunjung ke destinasi wisata. Banyak hal lain yang bisa dilakukan, contohnya dengan mengembangkan hobi, berkumpul dengan keluarga, atau menambah pengetahuan baru. Karena liburan bukan tentang seberapa jauh dan mahal destinasi yang dituju, melainkan tentang bagaimana dapat mengambil sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan yang dilakukan.

Posting Komentar

0 Komentar