Advertisement

Aku Rindu

 Membahas orang tua memang tidak pernah ada hentinya, ya. Orang yang berada diurutan pertama dari daftar orang-orang yang menjadi anutanku itu selalu saja membuat hati berkecamuk; bahagia, terharu, bangga. 

Orang tuaku bukan berasal dari keluarga yang serba ada. Mereka tumbuh dengan perjuangan dan kerja keras. Hidup dalam kesederhanaan dan kasih sayang.

Sebagai anak, aku tipikal anak yang tidak menuntut untuk membeli ini itu. Bahkan, untuk urusan baju aja selalu Ibu atau Bapak yang mengingatkan, "Kamu gak mau beli baju?", "Mau beli yang mana, Neng, sok Bapak yang bayarin." , "Nih Bapak kirim uang buat beli rok atau baju baru. Sekalian tuh jilbab beli yang baru, biar gak pake yang itu itu mulu."

Sering kali kalimat seperti itu mereka lontarkan. Tapi entah kenapa aku tidak terlalu tertarik untuk membeli baju-rok- atau semacamnya. Soalnya, pertama suka ngerasa sayang sama uangnya. Kedua, lebih milih buat dibeliin buku atau makanan dari pada begitu. Ketiga, aku tipe anak yang udah nyaman sama satu pakaian bakalan terus-menerus pakai jenis yang sama. Hahaha

Cerita ini tentu bukan tentang membeli baju atau tidak. Bukan itu tujuanku tentunya.

Kali ini aku ingin mengisahkan betapa sayangnya seorang Ibu dan Bapak kepada anaknya. Mereka yang rela mengorbankan dirinya agar anak-anaknya dapat hidup berkecukupan, tidak seperti mereka dahulu.

Saat itu, pernah Ibuku mengucapkan satu kalimat yang membuat aku yang cengeng ini merasa tertusuk hatinya,
"Maafin ya, Neng, Ma belum bisa memenuhi semua keinginan kamu. Kamu belum bisa nikmati fasilitas mewah atau pakai baju bagus."

Entahlah apa yang ada dipikiran ibuku sampai ia mengucapkan kalimat itu.
Jujur saja, aku tidak pernah merasa tidak bahagia dengan kehidupanku. Aku mensyukuri keadaanku sekarang, meskipun dijalani dengan sederhana.

Aku bahkan merasa menjadi beban di keluarga. Diumurku yang hampir berkepala dua ini, aku masih saja bergantung kepada kedua orang tuaku.

 Maafkan aku, Ma, Pak..

Ma, Pak, aku tau meskipun tanpa aku minta pun kalian selalu mendoakan anakmu ini untuk menjadi orang yang sukses dan bermanfaat untuk sekelilingnya.
Ma, Pak, maaf jika doa-doa dan harapan kalian selama ini belum bisa aku penuhi. Maaf jika aku selalu mengecewakanmu. Maaf jika aku belum bisa  membuatmu bangga. Maaf jika aku masih menjadi beban di keluarga. Maaf jika aku belum bisa menjadi si bungsu yang menorehkan senyum bahagia di sudut bibirmu.

Si bungsu ini hanya berharap, semoga kalian selalu meridhoi setiap langkah dan usaha dalam kebaikan yang aku lalui.

Salam hangat dari si bungsu yang sedang rindu.



Posting Komentar

0 Komentar