![]() |
| Foto/Pinterest |
Setiap insan tidak pernah tau akan lahir dari rahim seorang Ibu atau dididik oleh Ayah yang seperti apa. Ia tidak tahu, tidak pula dapat memilih. Takdir telah menentukan, yang terlahir hanya bisa menerima-- dan bersyukur tentunya.
Cantika Rosalyn. Perempuan yang cantik dan lemah lembut. Begitulah kiranya arti dari namanya. Nama yang berisi doa dan harapan dari kedua orang tua.
Sembilan belas tahun menjalani kehidupan, nama tersebut kini benar-benar membentuk diri dan menjadi ciri khas Cantika. Ia tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut dan pendiam. Ciri khas yang terkadang tidak disukainya.
Menjadi perempuan yang pemberani, berwawasan, dan mampu menyuarakan pendapat merupakan salah satu keinginannya. Siapa pula yang bermimpi menjadi perempuan yang sering kali diremehkan dan kehadirannya tidak dianggap ada. Tidak ada, bukan?
Sejak SMP bahkan SMA, meskipun ikut dalam suatu organisasi, Cantika sedikit sekali menyuarakan pendapatnya di depan umum. Ia menyadari kelemahannya. Sangat sadar.
Dulu, ia tidak terlalu berusaha memperbaiki kelemahannya tersebut. Namun, memasuki masa perkuliahan, ia sadar, komunikasi sangat dibutuhkan dan menyuarakan pendapat itu penting adanya.
Melihat teman-temannya yang dapat dengan mudah bersuara terkadang membuat rasa iri menghampirinya. Cantika selalu ingin berdiskusi, berdebat,berbicara depan umum, atau hanya bercerita kesehariannya kepada teman-temannya. Namun, nyatanya itu tak semudah perkiraannya. Sering kali suara tersendat ditenggorokan atau ide yang hanya terkumpul dalam otak. Ia tidak mampu. Tepatnya belum mampu.
Ia bukannya tidak mencoba untuk terus berbicara, melatih diri agar mampu menguasainya. Sering. Beberapa kali teman-temannya memancing agar Cantika mengungkapkan pendapatnya. Namun, itu tak bertahan lama, opininya selalu terkalahkan.
Cantika merasa memang bakatnya bukan di bidang komunikasi publik. Ah sudahlah. Ia tahu diri. Bahkan beberapa kali kalimat-kalimat atau tindakan kurang mengenakan untuk didengar ia terima.
"Eh Cantika sama Aya jangan digabung, soalnya..."ujar salah seorang temannya saat adanya pembagian kelompok. Ekspresi temannya itu terlihat ingin mengatakan "Mereka berdua jangan digabung, soalnya keduanya sama-sama gak bisa banyak omong." Iya pasti gitu. Tapi entahlah. Semoga saja itu hanya asumsinya.
Tidak hanya itu, dalam suatu rapat, pernah beberapa kali ia diabaikan. Jadi, dalam organisasi ia berada dalam satu divisi dengan kedua orang temannya. Saat itu, ada sebuah masalah yang berhubungan dengan divisinya dan sang pemimpin meminta pendapat. Entahlah, padahal Cantika ada di tempat tersebut, namun sosok pemimpin ini dengan keukeuhnya ingin bertemu dengan temannya yang dua orang lagi itu.
Tentu saja, dalam pikirannya ia berasumsi negatif, "Lha, kenapa nggak nanya ke gue aja? Gue kan bagian dari divisi itu. Apa setidak penting itu ya posisi gue di organisasi ini?"
Huftt sudahlah. Jangan terlalu banyak membahas perlakuan orang lain. Mungkin emang benar, Cantika saja yang kurang maksimal bekerja.
Jangan membiasakan diri mencaci maki orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri. Jangan ya. Gak baik. Hehe
Sudahlah. Ambil positifnya aja. Jadikan energi positif dari tindakan mereka yang merendahkan dan mengganggap tidak ada sebagai motivasi diri untuk bergerak maju.
Bukankah untuk mendapatkan sebuah pisau yang tajam nan kokoh, harus melewati beberapa kali tempaan?
Nah sama seperti hidup, mau gak mau akan melewati cobaan dan rintangan untuk menjadikan diri semakin kuat dan berpengalaman.
Semangat. Jangan jadi seperti Cantika yang terlalu memikirkan apa kata orang lain.
Itu ganggu banget.
Serius.
Fokus.
Berusaha.
Kejar mimpimu.

0 Komentar