Beberapa waktu yang lalu keponakanku membeli sebuah sepatu baru. Saat aku pulang kerja, dengan antusiasnya dia menceritakan sepatu baru tersebut.
"Bibi tau nggak Teteh punya apa?"ujarnya dengan mata berbinar.
"Wahh, apa tuh?"tanyaku kemudian.
"Teteh punya sepatu baru,lho."
Ia kemudian berlari dan mengambil sepatu berwarna hitam dengan garis ungu di sisinya. Sepatu yang manis dan sesuai warna kesukaannya. Sepatu itu ia simpan dengan rapi di kotak mainannya. Saking senangnya, kotak tersebut ia terus bawa kemana-mana. Sampai aku godain terus karena melihat ia tampak tidak sabar mengenakannya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Esok harinya dengan semangat ia berangkat sekolah mengenakan sepatu baru bergambar hello kitty tersebut. Aku sempat mengabadikan momen di mana ia mengenakan sepatu baru untuk pertama kalinya.
Tapi, sepatu baru yang ia tunggu-tunggu untuk dipakai itu ternyata tidak bertahan lama. Baru sehari pakai, sudah ada goresan di sisi yang berwarna hitam. Goresan tersebut memunculkan warna ungu. Entahlah bagaimana goresan itu bisa muncul. Padahal menurutnya, ia menggunakannya secara hati-hati.
Keponakanku menceritakan kembali sepatunya yang sudah tidak sebagus seperti pertama kali membeli. Aku mencoba menghiburnya, mengatakan bahwa selama masih bisa digunakan itu tidak apa-apa. Aku pun menyarankannya untuk minta tolong pada Ayahnya supaya mewarnai goresan tersebut agar tampak seperti semula. Ia pun mengiyakan.
Namun, ternyata masalah sepatu itu belum selesai. Semalam, saat menemaninya bermain, ia mengeluhkan kembali.
"Bi, sepatu teteh sekarang udah jebol. Gak cuma kegores,"cerita ia.
"Jangan-jangan itu sepatu bekas, ya Teh. Kan ada warna ungunya di balik warna item itu,"ucapku apa adanya, tanpa memikirkan dampak dari omonganku tersebut.
"Iya bener kali ya, Bi. Abangnya jual sepatu bekas terus diwarnain lagi biar kaya baru,"jawab kakaknya.
"Iya, gak boleh gitu, ya. Jualannya gak jujur kalo gitu ya, Dang?"ujarku.
"Iya kaya kisah itu lho, Bi. Pedagang yang jualan susu tapi dicampur air."
Tiba-tiba, si Teteh ini menimpali dengan kata-kata yang membuatku langsung beristighfar.
"Gak boleh nuduh gitu. Kan kita gak tau. Bisa aja abangnya juga gak tau kalo itu rusak."
Astagfirullah. Deg. Aku merasa tertampar oleh omongannya. Padahal dia masih kecil, tapi pemikirannya sudah seperti itu. Aku merasa malu. Merasa belum bisa menjadi contoh yang baik buat keponakanku.
Tapi, dari kejadian tersebut aku jadi belajar untuk lebih berhati-hati dalam berbicara. Apalagi di depan anak kecil yang perilakunya masih meniru orang-orang sekitarnya. Jangan sampai kita menjadi contoh yang buruk buat mereka.
Dari kejadian ini pun aku jadi tersadar, terkadang tanpa disadari, kita berbicara hal-hal yang belum jelas kebenarannya. Menerka-nerka suatu perkara yang bisa jadi itu sudah termasuk dalam kategori fitnah, bukan? Astagfirullah. Semoga kita dihindarkan dari perbuatan tersebut.

0 Komentar